WartaKota/

Akhirnya Hamas dan Fatah Rujuk, Palestina Bersatu

Dua faksi Palestina yang selama ini berseteru, Hamas dan Fatah, menandatangani pakta rekonsiliasi di Kairo, Kamis.

Akhirnya Hamas dan Fatah Rujuk, Palestina  Bersatu
Antaranews.com
Dokomentasi -- Seorang anak Palestina dengan busana tradisional mengibarkan bendera Palestina di Ramallah, Tepi Barat, Palestina. (REUTERS/Marko Djurica) 

WARTA KOTA -- Dua faksi Palestina yang selama ini berseteru, yakni Hamas dan Fatah, menandatangani pakta rekonsiliasi di Mesir, Kamis waktu setempat.

Hamas sepakat menyerahkan kendali pemerintahan Gaza kepada Fatah, termasuk penyeberangan perbatasan Fatah yang dianggap sangat penting.

Kesepakatan tersebut dicapai sepuluh tahun setelah kantong tersebut dikuasai Hamas melalui perang saudara.

Kesepakatan yang ditengahi oleh Mesir itu menjembatani perbedaan besar antara Partai Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas yang didukung Barat dengan Hamas yang dilabeli teroris oleh Barat dan Israel.

Menyatunya dua kekuatan politik di Palestina itu juga menguatkan posisi Abbas dalam setiap perundingan Palestina di berbagai wilayah Palestina yang diduduki Israel.

Perpecahan di dalam tubuh Palestina selama ini dipastikan telah menjadi hambatan terbesar dalam proses perdamaian. Hamas telah tiga kali berperang melawan Israel sejak 2008 dan hingga sekarang tetap menyerukan penghancuran Israel.

Kesepakatan Hamas untuk mengalihkan kendali kekuasaan di Gaza kepada Fatah telah menandai pembalikan besar-besaran dalam tubuh Hamas yang khawatir terkena isolasi bantuan keuangan dan politik oleh Arab Saudi dkk sebagai tindak lanjut aksi isolasi Saudi dkk kepada Qatar setelah menuduh Qatar menyokong militan-militan Islamis, termasuk Hamas.

Ribuan warga Palestina turun ke jalan-jalan di Gaza demi merayakan pakta persatuan itu. Perangkat pengeras suara tak henti-henti memutarkan lagu-lagu nasional, sementara para pemudanya menari-nari dan berpelukan sambil melambaikan bendera Palestina dan Mesir.

Mesir membantu memediasi beberapa upaya rekonsiliasi sebelumnya di antara dua pergerakan Palestina itu dan membentuk pemerintahan persatuan di Gaza dan Tepi Barat temoat Abbas dan Fatah berbasis.

Pada 2014, Hamas dan Fatah telah sepakat membentuk pemerintahan rekonsiliasi nasional namun buyar akibat saling tuduh karena Hamas terus mendominasi Gaza.

"Pemerintahan legislatif, pemerintahan konsensus, akan kembali berdasarkan tanggung jawab dan hukum," kata ketua delegasi Fatah Azzam Al-Ahmed di Kairo.

Dia mengatakan pemerintahan persatuan akan mengendalikan semua lembaga tanpa kecuali, termasuk semua penyeberangan perbatasan dengan Israel dan di Rafah yang merupakan satu-satunya akses Gaza ke Mesir.

Kesepakatan itu menyebutkan pasukan kepresidenan Abbas bertanggung jawab menjaga penyeberangan Rafah pada 1 November dan kendali pemerintahan sepenuhnya di Gaza kepada pemerintah persatuan pada 1 Desember, demikian Reuters.

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help