Su Kyi Berniat Ajak Pulang Rohingya, Pengungsi Tak Percaya Rezim Militer

Bangladesh dan Myanmar sepakat membentuk kelompok kerja bersama untuk merepatriasi pengungsi Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh.

Su Kyi Berniat Ajak Pulang Rohingya, Pengungsi Tak Percaya Rezim Militer
Antaranews.com
Pengungsi Rohingya -- Seorang perempuan pengungsi Rohingya menggendong anaknya di Kem Pengungsian Kutupalong, Cox Bazar, Bangladesh, Minggu (1/10/2017). (ANTARA/Akbar Nugroho Gumay) () 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Bangladesh dan Myanmar sepakat membentuk kelompok kerja bersama untuk proses repatriasi pengungsi Rohingya yang melakukan eksodus ke Bangladesh.

Demikian disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Bangladesh, Abul Hassan Mahmood Ali, kepada wartawan setempat Senin 2 Oktober 2017 di Daka setelah ia bertemu dengan seorang pejabat Myanmar.

"Kami tengah menantikan solusi damai untuk krisis ini," kata Ali setelah bertemu dengan Utusan Khusus Pemimpin Myanmar, Kyaw Tint Swe.

Ali mengatakan, utusan khusus Aung San Suu Kyi itu sepakat membentuk sebuah kelompok kerja untuk berkoordinasi tentang proses repatriasi. Su Kyi saat ini menjabat sebagai state counsellor  atau setara dengan perdana menteri, jabatan yang diciptakan Presiden Htin Kyawyang memimpin rejim militer Myanmar.

Pertemuan itu berlangsung dalam atmosfer yang bersahabat dan Myanmar telah menyampaikan sebuah proposal untuk memulangkan pengungsi Rohingya," ujar Ali.

Kedua belah pihak, sambung ALi, menyepakati sebuah proposal untuk membentuk kelompok kerja bersama untuk mengoordinasikan proses repatriasi.

Menurut Ali, para pengungsi Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh akan diverifikasi oleh kelompok kerja itu, namun tidak melibatkan Perserikatan Bangsa Bangsa.

"Bangladesh telah menyampaikan kesepakatan bilateral dengan Myanmar untuk membantu mengimplementasikan repatriasi itu," kata Ali tanpa penjelasan lebih jauh, seperti dikutip laman harian Bangladesh, hari ini, di Dhaka.

Tetapi, seorang pengungsi Rohingya bernama Feysel U-Azize, yang dihubungi Antara News dari Dhaka, menyatakan sudah tidak mempercayai lagi janji pemerintah Myanmar, karena hal itu sudah berulang kali dijanjikan dan tidak pernah terwujud.

"Tidak, saya sama sekali tidak percaya," kata Feysel.

Sehari sebelumya Fesisyel mengaku telah jatuh miskin dari semula selaku warga yang berasal dari kalangan kaya di Rakhine akibat kebijakan-kebijakan diskriminatif Myanmar hingga berpuncak kepada eksodus setengah juta warga Rakhine ke Bangladesh.

Selama empat hari di Cox's Bazar untuk menyusuri kamp-kamp pengungsian Rohingya, Antara News sangat jarang menemukan warga Rohingya yang masih percaya kepada Pemerintah Myanmar. Namun beberapa di antara mereka ada yang masih menaruh harapan kepada pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi.

"Saya percaya Aung San Suu Kyi punya itikad baik, tetapi sayang yang sebenarnya berkuasa di Myanmar bukan dia, tapi militer," kata Hafez Ullah, pengungsi Rohingya asal Maungdaw, daerah yang menjadi pusat kekerasan di Rakhine belakangan ini.

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help