Penegak Hukum Arab Saudi Buru Pengguna Twitter yang Ancam Bunuh Pendukung Perempuan Mengemudi

Jaksa Arab Saudi mengeluarkan surat perintah penangkapan pengguna Twitter, yang meminta siapa saja yang mendukung wanita mengemudi untuk dibunuh.

Penegak Hukum Arab Saudi Buru Pengguna Twitter yang Ancam Bunuh Pendukung Perempuan Mengemudi
Antaranews.com
Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean) 

WARTA KOTA, MATRAMAN -- Jaksa Penuntut Umum Arab Saudi mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pengguna Twitter, yang meminta agar siapa saja yang mendukung wanita mengemudi untuk dibunuh.

Ancaman itu dikeluarkan beberapa hari setelah keputusan kerajaan mengakhiri larangan perempuan mengemudikan mobil.

Pengguna Twitter, yang tidak disebutkan namanya, diduga telah menyebut orang-orang yang mendukung diperbolehkannya perempuan mengemudi sebagai "orang yang harus dibunuh," menurut surat kabar Asharq al-Awsat yang berafiliasi dengan negara, lapor Reuters.

Pengumuman jaksa diajukan pada hari Sabtu atau dua hari setelah surat perintah penangkapan terpisah dikeluarkan untuk seorang pria yang mengancam melalui video klip yang diunggah dalam jaringan untuk menyerang pengemudi perempuan.

Banyak warga Saudi menyambut baik pengumuman yang dikeluarkan oleh Raja Salman pada har Selasa pekan lalu terkait pencabutan larangan tersebut pada tahun depan.

Namun, ada pihak yang menentangnya secara daring atau percakapan sunyi setelah kebijakan tersebut mendapat dukungan selama beberapa dasawarsa dari ulama terkemuka.

Dalam pernyataan tersebut, jaksa berjanji memantau ancaman pelecehan dan mengajukan kasus melawan orang-orang yang "menghasut serangan terhadap masyarakat dan pelanggaran terhadap hak orang lain".

Sebelumnya, seorang menteri menyatakan pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan akan mengurangi jumlah kecelakaan mobil di negara dengan tingkat kematian terburuk di dunia terkait lalu lintas.

Raja Salman mengumumkan perubahan bersejarah tersebut pada Selasa, mengakhiri tradisi konservatif yang membatasi gerak kaum perempuan, yang dilihat oleh pegiat hak asasi manusia sebagai lambang penindasan mereka di Kerajaan Arab Saudi.

Arab Saudi adalah satu-satunya negara terakhir di dunia yang melarang perempuan mengemudi, dan kebijakan tersebut secara resmi berakhir pada Juni 2018 setelah komite menteri melaporkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menimplementasikan perintah kerajaan tersebut.

Halaman
12
Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help