Pemkot Bekasi Awasi 18 Perusahaan di Bantar Gebang Pembuang Limbah ke Kali

"Satu perusahaan di antaranya ada yang sudah disegel karena IPAL mereka tidak memenuhi standar," kata Suhendra.

Pemkot Bekasi Awasi 18 Perusahaan di Bantar Gebang Pembuang Limbah ke Kali
Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri
Pencemaran air Kali Bekasi disebabkan oleh pembuangan limbah dari pabrik yang berada dekat dengan kali. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, terus melakukan pengawasan terhadap 18 perusahaan di Kecamatan Bantar Gebang.

Mereka terindikasi membuang limbah yang tidak sesuai dengan baku mutu lingkungan ke Kali Bekasi.

Kepala Seksi Kerusakan Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Suhendra menyatakan, mereka dalam proses pembinaan terkait pentingnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Hal ini menyusul adanya temuan ketidakwajaran terhadap IPAL mereka pada Desember 2016 lalu.

"Satu perusahaan di antaranya ada yang sudah disegel karena IPAL mereka tidak memenuhi standar," kata Suhendra pada Rabu (27/9).

Suhendra mengatakan, sebetulnya mereka berhak membuang limbah, namun harus sesuai dengan baku mutu lingkungan.

Sebelum dibuang, limbah harus melewati proses pengolahan oleh alat IPAL.

Maka dari itu, pemerintah kerap melakukan pemeriksaan dan pengecekan ke sejumlah perusahaan di sana.

Tujuannya, untuk mengetahui kelayakan mesin pengelolaan limbah dan kadarnya sesuai dengan PP 41 tahun 1996 dan PP 82 tahun 2001 tentang pengendalian pencemaran.

Menurut dia, belasan perusahan itu tidak semuanya memproduksi limbah cair, ada pula yang memproduksi limbah padat.

Hingga saat ini, kata dia, baru satu perusahaan yang telah menerima sanksi penutupan IPAL, yaitu CV Millenium yang bergerak dalam bidang usaha pecucian celana jeans di Bantargebang, Kota Bekasi.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kustantina menambahkan, seluruh perusahaan itu dituntut untuk menyediakan IPAL yang ideal dan ramah lingkungan.

IPAL, kata dia, harus itu memiliki sejumlah kontrol seperti fisika, biologi dan kimia.

"Endapan lumpur juga perlu diwaspadai, karena harus rutin dikuras agar tidak meninggalkan bahaya lingkungan. Paling lama 8-13 jam limbah tersebut harus diolah," ujar Kustantina. (faf)

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved