Krisis Rohingya

Jangan Sekali-kali Sebut Kata Rohingya di Myanmar

Meski demikian, kehidupan beragama di Myanmar cukup harmonis, tidak terpengaruh isu-isu agama di balik tragedi kemanusiaan di Negara Bagian Rakhine.

Jangan Sekali-kali Sebut Kata Rohingya di Myanmar
TRIBUNNEWS/NICOLAS MANAFE
Masjid Chulia Muslim Dargah di Jalan Bogyoke Aung San Market, Yangon, Myanmar. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Rakhine State, Myanmar pada 25 Agustus 2017. Sekira 400 ribu orang harus melarikan diri ke Bangladesh, sementara ratusan lainnya tetap bertahan.

Tragedi kemanusiaan tersebut sangat santer diberitakan di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia, lantaran banyak korban berasal dari kelompok masyarakat beragama Islam.

Lalu, bagaimana warga Myanmar melihat tragedi kemanusiaan di negara mereka itu? Dari beberapa orang yang ditemui Tribunnews di Kota Yangon, tidak banyak orang yang ingin mengungkapkan pendapatnya, bahkan cenderung menghindar.

Suasana pusat perbelanjaan Bogyoke Aung San Market, di  Kota Yangon, Myanmar.
Suasana pusat perbelanjaan Bogyoke Aung San Market, di Kota Yangon, Myanmar. (TRIBUNNEWS/NICOLAS MANAFE)

Tribunnews tidak sempat bertanya siapa nama warga tersebut, karena keterbatasan bahasa. Mereka yang ditemui sulit berbahasa Inggris, dan sulit melafalkan nama mereka secara tepat.

Tiga di antara lima orang yang ditemui di kawasan Swhedagon Pagoda itu, langsung memalingkan mukanya sambil melambaikan tangan pertanda enggan berkomentar.

Dua lainnya yang ditemui di lokasi yang sama, sempat berkomentar bahwa mereka sama sekali tidak ingin ikut campur mengenai hal itu.

Baca: Fahri Hamzah: Kalau Presidential Threshold 20 Persen, Jokowi Tidak Ada Lawan

"Itu bukan urusan saya," kata pria yang mengenakan sarung atau Longyi itu.

Bahkan, pria lainnya menilai apa yang terjadi di Negara Bagian Rakhine itu murni penindakan yang dilakukan pemerintah, untuk ketertiban dan keamanan nasional negara Myanmar.

Diketahui, 30 pos kepolisian dan pangkalan militer di Myanmar yang diserang pada 25 Agustus waktu itu, dilakukan oleh kelompok yang menamai dirinya ARSA.

Halaman
12
Penulis: Nicolas Manafe
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help