Dinas Perumahan Ancam Keluarkan Warga yang Bikin Aturan Sendiri

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Pemukiman DKI Jakarta mengancam penghuni rumah susun yang main hakim sendiri.

Dinas Perumahan Ancam Keluarkan Warga yang Bikin Aturan Sendiri
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Warga asrama Pacuan Kuda Pulomas saat pindah ke Rusun Pulogebang, Sabtu (16/4). 

WARTA KOTA, CAKUNG -- Buntut aksi pembubaran sekolah minggu yang dilakukan warga bernama Joker di Rusunawa Pulogebang, Jakarta Timur, Sabtu (23/9) memunculkan reaksi keras pada Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Pemukiman DKI Jakarta.

"Ini jadi kesalahanpahaman saja, namun sudah saya serahkan ke pihak kepolisian, tapi sudah ada komitmen dari yang bersangkutan untuk tidak melakukan tindakan tersebut kembali," kata Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Jakarta, Agustino Darmawan, Minggu (24/9).

Menurut Agustino Joker merasa terganggu oleh adanya kegiatan sekolah minggu yang dilakukan di Rusunawa Pulogebang, sehingga ia melakukan tindakan yang meresahkan warga.

"Jadi dia itu terganggu dengan adanya sekelompok orang. Tapi kata-katanya memaki-maki orang. Nah ini tidak bener, yang pasti dia salah dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," katanya.

Saat ini aksi pembubaran sekolah minggu oleh Joker telah berujung mediasi. Untuk itu ia mengimbau warga untuk tidak membuat aturan sendiri.

"Kalo dia mengulangi perbuatan itu kembali, bukan saja dikeluarkan tapi akan saya pidanakan. Untuk penghuni rumah susun ini ada aturanya. Tidak boleh ada penghuni mengatur yang lain atau main hakim sendiri. Jika ada (lagi) di rusun lain,  maka saya akan tindak," katanya.

Sebelumnya Joker mengusir anak-anak yang tengah melakukan kegiatan sekolah minggu di Blok F Rusun Pulo Gebang, Sabtu (23/9) sekitar pukul 17.00 WIB. Hari itu sekolah minggu mengusung tema 'Sabtu Ceria'.

Tiba-tiba seorang laki-laku yang kemudian disebut-sebut bernama Jokoer muncul dengan membawa kapak dan gergaji besi saat melakukan aksinya. Di dalam video yang dieroleh Warta Kota, ia terlihat berteriak-teriak dan memaki-maki dengan kata-kata kasar. Beberapa kalaimat cenderung terkait SARA.

Namun ia mengaku bahwa gergaji dan kapak itu ia bawa karena ia baru mengerjakan sesuatu. Setelah menyingkirkan kapak dan gergajinya ia tampak kembali lagi untuk melanjutkan aksinya.

Akibat aksi tersebut anak-anak yang mengikuti acara tersebut menangis ketakutan,  Sejumlah orang tua sempat mengingatkan bahwa anak-anak ketakutan dan bisa trauma. Tetapi Joker tetap melanjutkan aksinya sampai ia dilerai. (M13)

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help