BKSDA DKI Jakarta Siapkan Langkah Ini Antisipasi Keberadaan Monyet Liar di Kawasan PIK

"Selain itu juga dengan menghalau monyet ekor panjang yang keluar dari kawasan serta melakukan pemantauan aktivitas mereka di luar kawasan," katanya.

BKSDA DKI Jakarta Siapkan Langkah Ini Antisipasi Keberadaan Monyet Liar di Kawasan PIK
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Poster pengumuman larangan mendekati monyet ekor panjang di kawasan Pantai Indah Kapuk. 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Junianto Hamonangan

WARTA KOTA, PENJARINGAN -- Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, Ida Harwati mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi monyet ekor panjang yang keluar dari habitat aslinya di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

"Pertama dengan memasang papan-papan larangan atau himbauan untuk tidak memberikan makan kepada monyet ekor panjang," ungkap Ida, Jumat (22/9).

Selanjutnya melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui kegiatan pertemuan tingkat RW, penyebaran leaflet dan poster.

Poster pengumuman larangan mendekati monyet ekor panjang di kawasan Pantai Indah Kapuk.
Poster pengumuman larangan mendekati monyet ekor panjang di kawasan Pantai Indah Kapuk. (Warta Kota/Junianto Hamonangan)

"Selain itu juga dengan menghalau monyet ekor panjang yang keluar dari kawasan serta melakukan pemantauan aktivitas mereka di luar kawasan," katanya.

Pihaknya juga akan menghitung daya dukung kawasan hutan apakah masih sesuai atau cukup untuk mendukung kehidupan alami monyet ekor panjang.

"Tidak kalah penting juga adalah melarang masyarakat memberi makan ke dalam kawasan hutan atau melepas monyet ke dalam kawasan hutan," tegasnya.

Terakhir pihaknya akan melakukan penangkapan jika monyet ekor panjang tersebut sudah melakukan penyerangan kepada masyarakat untuk kemudian dilakukan rehabilitasi di Yayasan IAR Bogor.

Adapun perilaku monyet ekor panjang yang saat ini sering menimbulkan konflik dengan masyarakat yakni keluar dari habitat alaminya yaitu kawasan hutan kemudian masuk ke pemukiman masyarakat.

"Selain juga menyerang anak-anak dan masyarakat, merusak fasilitas-fasilitas yang dimiliki masyarakat atau yang dibangun oleh pengembang perumahan," tutupnya. (*)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved