WartaKota/

Upaya Penghentian Peredaran Pil PCC Dipertanyakan

Kemungkinan upaya penghentian peredaran PCC oleh Pemerintah dalam hal ini rumah sakit dan BPOM dipertanyakan.

Upaya Penghentian Peredaran Pil PCC Dipertanyakan
Warta Kota/Tribunnews.com
Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak LPAI, Reza Indragiri Amriel 

WARTA KOTA, DEPOK -- Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel secara serius mempertanyakan kemungkinan penghentian peredaran PCC oleh Pemerintah dalam hal ini rumah sakit dan BPOM.

Alasannya sejumlah bahan baku pembuat pil PCC dapat ditemukan dengan cukup bebas di sekitar kita.
Demikian disampaikan Reza Indragiri Amriel yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang mendapat gelar Master Psikologi Forensik, Minggu (17/9/2017).

"Jelas, mengonsumsi obat-obatan perlu manajemen yang tepat. Tapi saya serius mempertanyakan kemungkinan menghentikan peredaran PCC," uja Reza.

Reza mengingatkan bahan baku seperti paracetamol dan cafein adalah zat yang bisa dibeli dengan bebas, bahkan di kedai simpang jalan.

"Bahan baku pembuatnya pun sangat banyak terkandung dalam obat-obat tanpa resep dokter atau over the counter medicine," ujarnua lagi.

Menurutnya dari sejumlah bahan baku pembuat pil PCC hanya carisoprodol yang kini hanya bisa dibeli dengan resep dokter. Dulu, katanya, mencari soprodol pun bisa dibeli bebas, seperti juga dextromethorphan.

"Nah, anggaplah PCC di seluruh muka bumi dibakar habis. tapi siapa pun, termasuk anak-anak, tetap bisa membeli paracetamol dan cafein secara terpisah. Bahkan dengan membeli paracetamol pun sudah cukup, karena cafein bisa diperoleh lewat kopi dan teh kelat," katanya.

"Lagi pula, kata Reza berapa jumlah korban PCC? "Bandingkan dengan jumlah anak-anak pecandu rokok dan perokok pemula," tuturnya.

Di Kendari dikabarkan ada puluhan anak terkapar PCC. Di Indonesia, Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN menemukan, setidaknya 30 persen anak Indonesia mulai merokok sebelum usia 10 tahun.

"Jumlah itu setara dengan 20 juta anak," kata Reza.
"Baguslah kita risau melihat anak-anak yang rusak akibat menenggak PCC," tuturnya.

"Persoalannya, setarakah kerisauan kita melihat pertumbuhan jumlah perokok kanak-kanak yang angkanya sedemikian gila-gilan? Hayo, pegiat perlindungan anak yang sekaligus perokok kelas kakap, bagaimana mau menyikapinya?," sindir Reza.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help