WartaKota/

Ini Penjelasan Dhandy Dwi Laksono Singgung Megawati dalam Tulisannya

Sebagai sesama manusia, Dhandy Dwi Laksono merasa penting menyoroti kemalangan yang menimpa warga Rohingya di Rakhine State, Myanmar.

Ini Penjelasan Dhandy Dwi Laksono Singgung Megawati dalam Tulisannya
TRIBUNNEWS/NURMULIA REKSO PURNOMO
Dhandy Dwi Laksono 

WARTA KOTA, KWITANG - Sebagai sesama manusia, Dhandy Dwi Laksono merasa penting menyoroti kemalangan yang menimpa warga Rohingya di Rakhine State, Myanmar.

Atas alasan tersebut, ia memutuskan merangkai kata-kata hingga akhirnya menjadi tulisan yang kaya fakta.

Mantan produser berita di SCTV yang kini aktif sebagai pembuat film dokumenter itu, membuka tulisannya dengan mengulas soal Aung San Suu Kyi.

Baca: Dipolisikan Sayap PDIP, Dhandy Dwi Laksono Belum Siapkan Alat Mandi

Perempuan tersebut adalah penerima Nobel perdamaian, yang sempat 15 tahun dipenjara oleh junta militer di Myanmar. Kini Aung San Suu Kyi adalah pemimpin di Myanmar, dan Dandhy Dwi Laksono menyoroti sang penerima Nobel yang dianggap kurang banyak berperan dalam menyelesaikan konflik Rohingya.

"Aung San Suu Kyi adalah news peg (cantolan berita)," ujarnya dalam konfrensi pers di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Jakarta Pusat, Minggu (17/9/017).

Di Indonesia, kasus yang menurutnya tidak jauh berbeda, juga terjadi. Megawati Sukarnoputri, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang pada masa Orde Baru (Orba) banyak merasakan penindasan, juga tidak bisa berbuat banyak saat terpilih menjadi Presiden kelima RI. Oleh karena itu ia merasa harus menyertakan cerita tentang Megawati di tulisannya.

Baca: Dandhy Dwi Laksono Samakan Megawati dengan Aung San Suu Kyi, Fahri Hamzah Tak Terima

"Bahwa ada person (Megawati), itu tidak terhindarkan, karena kalau menulis harus ada lima W satu H, saya pikir itu jawabannya," katanya.

"Dari awal saya ingin menulis bagaimana Indonesia belajar dari Rohingya, bukan membandingkannya dengan Megawati, seperti framing pelapor," jelasnya.

Tulisan Dhandy Dwi Laksono yang awalnya ia unggah di laman Facebooknya itu, kemudian dilaporkan oleh Repdem, yang merupakan organisasi sayap PDIP. Ia dilaporkan dengan Undang-undang Informasi dan Transasksi Elektronik (ITE), karena dianggap menyebarkan ujaran kebencian.

Baca: Antonius Tonny Budiono Bantah Timbun Uang Korupsi untuk Persiapan Pensiun

Dalam tulisannya itu, sang penulis menyoroti bagaimana Megawati yang sempat berjanji menyudahi penderitaan rakyat Aceh. Namun setelah terpilih sebagai presiden, putri Sukarno itu justru mengirimkan tambahan pasukan ke Aceh yang saat itu masih berstatus Daerah Operasi Militer (DOM).

Dandhy Dwi Laksono menyayangkan tulisannya tersebut ditanggapi dengan pelaporan ke kepolisian. Ia berharap siapa pun yang tidak terima dengan tulisannya itu, membalas karyanya tersebut dengan tulisan tandingan. (*)

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help