WartaKota/

Dipolisikan Sayap PDIP, Dhandy Dwi Laksono Belum Siapkan Alat Mandi

Dalam tulisan itu, ia juga menyinggung Presiden kelima RI Megawati Sukarnoputri. Tulisan itu kemudian dikutip berbagai media arus utama.

Dipolisikan Sayap PDIP, Dhandy Dwi Laksono Belum Siapkan Alat Mandi
TRIBUNNEWS/NURMULIA REKSO PURNOMO
Dhandy Dwi Laksono 

WARTA KOTA, KWITANG - Sejak dilaporkan oleh Repdem yang merupakan organisasi sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada 6 September lalu, Dhandy Dwi Laksono mengaku belum menerima surat dari Polda Jawa Timur.

"Saya belum menerima panggilan apa pun, saya hanya baca pemberitaan, Polda Jatim sedang menyiapkan ahli bahasa, kami menunggu," ujarnya kepada wartawan saat konferensi pers di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Jakarta Pusat, Minggu (17/9/2017).

Dhandy sempat berkelakar tak sampai menyiapkan alat-alat mandi, untuk berjaga-jaga jika mantan wartawan SCTV yang kini aktif membuat film dokumenter itu, jadi ditahan polisi karena laporan dari Repdem.

Baca: Dandhy Dwi Laksono Samakan Megawati dengan Aung San Suu Kyi, Fahri Hamzah Tak Terima

"Saya tidak menyiapkan alat mandi," katanya.

Dhandy Dwi Laksono dilaporkan atas tulisan yang diunggahnya di Facebook, yang sedikit banyaknya membahas soal sikap penerima nobel yang kini menjabat sebagai pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang dianggap kurang berperan dalam konflik Rohingya.

Dalam tulisan itu, ia juga menyinggung Presiden kelima RI Megawati Sukarnoputri. Tulisan itu kemudian dikutip berbagai media arus utama.

Baca: Antonius Tonny Budiono Gunakan Uang Korupsi untuk Kegiatan Sosial

Tulisan tersebut dianggap sebagai ujaran kebencian oleh Repdem, yang kemudian melaporkan Dhandy Dewi Laksono ke Polda Jawa Timur. Ia dilaporkan dengan Undang-undang nomor 19 tahun 2016, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Dhandy Dwi Laksono menyayangkan tulisannya itu dilaporkan ke polisi. Ia berharap siapa pun yang tidak terima dengan tulisan tersebut, membahasnya dengan tulisan tandingan. Ia menolak tulisannya dianggap sebagai bagian dari ujaran kebencian. (*)

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help