WartaKota/

Kekuatan TNI Selama Ini Terpusat di Jawa, Ternyata Ini Penyebabnya

Wiranto juga menyinggung fasilitas TNI yang lokasinya sudah dianggap kurang representatif.

Kekuatan TNI Selama Ini Terpusat di Jawa, Ternyata Ini Penyebabnya
Kompas.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI
Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Wiranto saat konferensi pers mengenai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang Ormas di Gedung Kementerian Polhukam, Jakarta, Rabu (12/7/2017). 

WARTA KOTA, SENAYAN - Menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengatakan, selama republik ini berdiri, kekuatan TNI hanya berpusat di Pulau Jawa.

Hal tersebut bisa terjadi, katanya, antara lain karena markas TNI yang dihuni saat ini sebagiannya berdiri di atas tangsi yang dibangun penjajah.

Dalam rapat bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (13/9/2017), ia menyebut tangsi-tangsi tersebut dibangun Belanda di sepanjang jalur kereta, mulai dari Bandung, Cimahi, hingga Banyuwangi.

Baca: Minta Anggaran Kunjungan Kerja DPR Tak Dipersoalkan, Fahri Hamzah: Kan Bukan Pergi Piknik

"Kenapa? Karena Belanda membangun untuk mengawasi perkebunan, pabrik gula, pabrik tembako, itu kita tempati. Akibatnya apa? Tentara dan polisi bejubel di Pulau Jawa," katanya.

Kebijakan tersebut tepat pada awalnya. Sebab, di awal TNI terbentuk, yang umurnya hanya beberapa bulan lebih muda dari republik ini, saat itu negara tidak punya uang, dan angkatan bersenjata harus dibentuk. Alhasil, kebijakan perampasan aset-aset penjajah pun dilakukan.

Dalam kesempatan itu, Wiranto juga menyinggung fasilitas TNI yang lokasinya sudah dianggap kurang representatif. Wiranto menyebut Markas Korps Marinir yang terdapat di pusat kota, yakni di Jalan Kwitang, Jakarta Pusat, dan fasilitas Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif) TNI AD yang berada di Jalan Supratman, Bandung, Jawa Barat.

Baca: Sekjen Partai Gerindra: Bulan Lalu Kami Difitnah Intoleran, Sekarang Saracen

"Marinir tahu kan, kerjanya kan sebenarnya di pantai, amfibi, tapi (markasnya) di Kwitang dia," ujarnya.

"Di Bandung, di Jalan Supratman, saya dan Pak Luhut (Binsar Panjaitan) sempat sekolah di sana. Kita sekolah tahun enam puluhan. Dulu lari pagi masih sepi, keluar kompleks masih taman makam pahlawan, sekarang keluar pintu gerbang, kita bisa disambar angkot," selorohnya.

Oleh karena itu, menurutnya sudah tepat yang dilakukan pemerintah saat ini, yakni membangun Indonesia dari pinggir, termasuk untuk urusan fasilitas TNI. Menkopolhukam meminta anggota DPR mendukung kebijakan tersebut, dan anggaran untuk pembangunan pertahanan di pinggir Indonesia tidak lagi dipangkas. (*)

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help