WartaKota/

Sidang Kasus Penipuan di PN Tangerang Berlangsung Alot

Sidang kasus tindak pidana pemalsuan ke dalam Akta Autentik terhadap korban Adipurna Sukarti kembali digelar di PN Tangerang pada Rabu (13/9).

Sidang Kasus Penipuan di PN Tangerang Berlangsung Alot
Warta Kota/Andika Panduwinata
Suasana sidang kasus tindak pidana pemalsuan ke dalam Akta Autentik terhadap korban Adipurna Sukarti yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada Rabu (13/9/2017). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Andika Panduwinata

WARTA KOTA, TANGERANG -- Sidang kasus tindak pidana pemalsuan ke dalam Akta Autentik terhadap korban Adipurna Sukarti kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada Rabu (13/9/2017). Suasana dalam persidangan berlangsung alot.

Terdakwa dalam perkara ini yakni Suryadi Wongso dan Yusuf Ngadiman dihadirkan dalam persidangan. Pada persidangan hari ini dihadirkan dua orang saksi.

Di antaranya Rusdiana dan Henni. Keduanya merupakan notaris yang membuat Akta tersebut.

Suasana sidang kasus tindak pidana pemalsuan ke dalam Akta Autentik terhadap korban Adipurna Sukarti yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada Rabu (13/9/2017).
Suasana sidang kasus tindak pidana pemalsuan ke dalam Akta Autentik terhadap korban Adipurna Sukarti yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada Rabu (13/9/2017). (Warta Kota/Andika Panduwinata)

Seperti diberitakan Warta Kota sebelumnya, kasus ini berawal ketika Sukarti bekerja sama dengan Yusuf Ngadiman dan ayah Suryadi Wongso yaitu Salim Wongso dengan menyertakan modal senilai Rp 8,15 miliar pada tahun 1999.

Modal tersebut digunakan untuk membeli tanah seluas 45 hektar di Desa Salembaran Jati, Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Sukarti kemudian dijadikan pemegang saham pada PT Salembaran Jati Mulya dengan mendapatkan saham sebesar 30 persen. Sedangkan Ngadiman dan Salim menerima 35 persen per orang.

Kepemilikan saham tercantum pada Akta Notaris Elza Gazali nomor 11 tertanggal 8 Februari 1999. Namun selama kerja sama berjalan, Sukarti tidak pernah dibagi keuntungan.

Bahkan Sukarti tidak mengetahui saat Salim Wongso meninggal dunia mewariskan sahamnya kepada putranya Suryadi Wongso pada tahun 2001. Pada 2008 Sukarti yang menerima informasi bahwa Ngadiman dan Suryadi Wongso telah menjual aset PT Salembaran Jati Mulya.

Akhirnya merasa tertipu, korban melaporkan perkara ini ke Bareskrim Mabes Polri.

Suasana sidang kasus tindak pidana pemalsuan ke dalam Akta Autentik terhadap korban Adipurna Sukarti yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada Rabu (13/9/2017).
Suasana sidang kasus tindak pidana pemalsuan ke dalam Akta Autentik terhadap korban Adipurna Sukarti yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang pada Rabu (13/9/2017). (Warta Kota/Andika Panduwinata)

"Terdakwa yang meminta membuat Akta perubahan itu pada 22 Mei 2009 ke saya," ujar Rusdiana bersaksi dalam persidangan di PN Tangerang pada Rabu (13/9/2017).

Menurut Rusdiana, dirinya membuat perubahan Akta tersebut dari Akta sebelumnya yang dibuat oleh notaris Elza Gazali. Namun Sukarti tak dilibatkan dalam pembuatan Akta tersebut.

"Dia (Sukarti) tidak tanda tangan, kalau menurut terdakwa dia akan menyusul tanda tangan. Makanya dibuat Aktanya," ucapnya.

Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum terus menyecar keterangan saksi ini. Rusdiana yang sebelumnya disumpah sebelum persidangan dimulai, sempat gelagapan menjawab pertanyaan Jaksa.

"Pertimbangan saya buat Akta ini karena susunan saham tidak berubah. Untuk kedua terdakwa masing - masing dapat 35 persen dan Sukarti 30 persen. Dan ada pemilik saham yang meninggal itu diubah jatuh ke ahli waris. Saya juga tidak pernah menghubungi Sukarti," paparnya. (*)

Penulis: Andika Panduwinata
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help