Video Penganiayaan Qowi Viral, Keluarga Tuntut Keadilan

Kami tanya, kenapa sih nggak lapor polisi. Katanya, awalnya memang cuma minta dikembalikan saja.

Video Penganiayaan Qowi Viral, Keluarga Tuntut Keadilan
Warta Kota/Dwi Rizki
Bunda Abi Qowi (22), Rosani Nina Sari (50), kepada wartawan di Mapolda di Mapolda Metro Jaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Jumat (8/9/2017). 

WARTA KOTA, KEBAYORANBARU - Kematian Abi Qowi Suprapto (22) pemuda yang diduga mencuri vape di Toko Rumah Tua Vape, Kawasan Tebet, Jakarta Selatan sebelumnya telah diikhlaskan pihak keluarga. Namun, pasca viralnya rekaman video penganiayaannya dalam media sosial, pihak keluarga menuntut keadilan.

Baca: Dituduh Curi Vape, Ibunda: Abi Nggak Merokok

Rosani Nina Sani (50) sang ibunda pun melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Kepolisian pada 6 September 2017. Laporan tersebut diungkapkan Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Nico Afinta segera ditindaklanjuti pihaknya.

"Beredarlah berita di medsos tentang kejadian ini, dan ibunya baru tahu tanggal 6 September di grup wa (WhatsApp). Orangtua qowi ini sudah berpisah, dan ibunya baru memberi tahu bapaknya, sehingga pada 7 September polda metro jaya menerima laporan dan diinfokan oleh rekan-rekan media," ungkapnya kepada wartawan di Mapolda Metro Mapolda Metro Jaya pada Minggu (10/9).

Tidak berselang lama usai dilaporkan, Jatanras Polda Metro Jaya berhasil mengamankan Rajasa Sri Herlambang alias Dimas (34), karyawan Toko Rumah Tua Vape, Aditya Putra (20), Fahmi Kurnia Firmansyah (39) dan Armyando Azmir (49). Sementara, pasca pemberitaan, seorang berinisial PH menyerahkan diri pada Sabtu (9/9), sedangkan dua orang lainnya, yakni I dan A masih buron hingga kini.

"Empat jam setelah laporan masuk, kami berhasil menangkap Fa, Di, Ad, dan An. Satu tersangka sudah ditangkap atas inisial PH, masih pendalaman. Ada dua tersangka lain masih DPO," jelasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, pemilik Toko Rumah Tua Vape yakni Fahmi mengaku jika aksi penganiayaan yang berujung kematian itu tidak disengaja. Awalnya, para pelaku mengaku hanya mengintimidasi korban agar mengakui perbuatannya.

"Kami tanya, kenapa sih nggak lapor polisi. Katanya, awalnya memang cuma minta dikembalikan saja. Bapaknya (korban) saat itu menyanggupi. Kata tersangka, pada saat kejadian mereka sudah menghubungi bapaknya berkali-kali, namun tidak tersambungkan," jelasnya.

Namun, penyesalan tidak merubah keadaan, para tersangka katanya kini telah ditahan berikut barang bukti antara lain sejumlah ponsel dan tab, sebilah besi yang digunakan memukul korban serta print out postingan sayembara dalam medika sosial Instagram.

"Selanjutnya kami akan laksanakan otopsi, akan bongkar makam korban untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tersangka dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup," jelasnya.

"Kami mengimbau kepada masyarakat, apabila menemukan dugaan tindak pidana, segera lapor ke polisi. Jangan persekusi, jangan lakukan tindakan sebagai polisi, jaksa, dan hakim. Ini tidak bisa, sistem di kita (Indonesia) diatur sistem peradilan pidana. Ini tugas polisi membuktikan, lalu dibuktikan oleh jaksa, diputus di sidang. Jadi, tidak ada suatu kesalahan seseorang diputus oleh seseorang," tutupnya menambahkan.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Adi Kurniawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved