WartaKota/

Wakil Ketua KPK ini Menilai Tim Independen Terkait Novel Tak Relevan

Wakil Ketua KPK ini menilai pembentukan tim independen untuk mengusut pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, tidak relevan.

Wakil Ketua KPK ini Menilai Tim Independen Terkait Novel Tak Relevan
Tribunnews/Herudin
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2015-2019, Thony Saut Situmorang 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Sitomorang, menilai pembentukan tim independen untuk mengusut pelaku penyerangan terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, sebagai hal yang tak relevan.

"Karena dalam perjalanan bangsa kita, (pembentukan-red) tim-tim seperti itu yang akhirnya focal point-nya tetap penegak hukum. 'Barang' ini kan harus dibawa ke pengadilan. Sebaiknya kita pakai KUHAP saja," kata Saut Situmorang di Gedung KPK, Jakarta, Rabu.

Dikatakan pula, jika memang ada wacana pembentukan tim independen, maka ia tidak berada dalam posisi untuk mengatakan "ya" atau "tidak".

"Saya enggak bertanggung jawab mengatakan itu boleh apa tidak," kata dia.

Namun, lanjutnya, jika ditanya, apakah KPK diperbolehkan masuk tim gabungan dengan Polri untuk mengusut penyerang Novel, dirinya secara pribadi menyarankan KPK masuk saja dalam tim tersebut

Tujuannya, katanya, untuk melihat apakah prosesnya berjalan sesuai dengan keinginan kita bersama dalam rangka penegakan hukum.

"Kalau tim independen bagus tapi kayaknya bagaimana membawa ini ke pengadilan jalannya jadi (akan) panjang. Jadi penyidik sajalah. Kalau penyidik kan kami pantau," tuturnya.

Namun Saut tetap merespons positif jika memang tim independen jadi dibentuk. Hanya saja secara pribadi ia lebih cenderung pada bergabungnya KPK dengan Polri.

"Kami respons positif, kalau memang perlu. Kalau saya pribadi bisa ikut dalam tim itu, saya suka mendalaminya," ucap Saut.

Sebelumnya, penyidik senior KPK Novel Baswedan tetap menginginkan pembentukan tim pencari fakta (TPF) independen yang tidak mengandung unsur kepolisian untuk mengungkap kasusnya.

"Jadi tim gabungan pencari fakta tentunya tidak melibatkan anggota Polri, tapi melibatkan profesional, akademisi dan ahli-ahli lainnya yang kemudian bisa menjadikan suatu kinerja untuk melakukan pendalaman terkait peristiwa itu," kata Novel kepada Antara di Singapura, Selasa (15/8/2017).

Sebelumnya Novel Baswedan disiram air keras oleh dua pengendara sepeda motor dekat rumahnya pada 11 April 2017 seusai menjalani ibadah salat subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya. Mata Novel mengalami kerusakan parah sehingga harus menjalani perawatan di Singapore National Eye Centre (SNEC) sejak 12 April 2017.

Ia mengaku akan mengungkapkan kepada tim pencari fakta nama jenderal di kepolisian yang sebelumnya diduga ikut dalam peristiwa penyerangan itu.

"Soal nama jenderal yang saya sebut lagi yang saya sampaikan terkait peristiwa-peristiwa teror itu adalah konsumsi untuk tim gabungan pencari fakta karena kalau saya sampaikan ke penyidik itu hanya membebani pekerjaan mereka yang toh juga tidak akan membuat mereka menyelesaikan tugasnya dengan baik," tambah Novel.

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help