WartaKota/

Puluhan Perlintasan Sebidang Picu Kecelakaan di Bekasi

Puluhan perlintasan kereta api sebidang tanpa penjagaan petugas di Kota dan Kabupaten Bekasi bakal ditutup.

Puluhan Perlintasan Sebidang Picu Kecelakaan di Bekasi
Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri
Suasana perlintasan sebidang di dekat Ruko Ampera, Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Minggu (13/8). Perlintasan sebidang rawan terjadi kecelakaan, karena tidak dijaga petugas resmi dan sejumlah peralatan yang mendukung untuk mengetahui kedatangan kereta api. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Puluhan perlintasan kereta api sebidang tanpa penjagaan petugas di Kota dan Kabupaten Bekasi bakal ditutup.

Selain ilegal, keberadaan perlintasan sebidang juga memicu terjadinya kecelakaan dengan kendaraan lain bahkan pejalan kaki.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi, Suhup mengatakan ada 45 perlintasan sebidang di wilayahnya.

Sebanyak 32 dinyatakan ilegal, karena tidak dijaga oleh petugas resmi, sedangkan sisanya 13 unit telah resmi.

Suasana perlintasan sebidang di dekat Ruko Ampera, Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Minggu (13/8). Perlintasan sebidang rawan terjadi kecelakaan, karena tidak dijaga petugas resmi dan sejumlah peralatan yang mendukung untuk mengetahui kedatangan kereta api.
Suasana perlintasan sebidang di dekat Ruko Ampera, Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Minggu (13/8). Perlintasan sebidang rawan terjadi kecelakaan, karena tidak dijaga petugas resmi dan sejumlah peralatan yang mendukung untuk mengetahui kedatangan kereta api. (Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri)

"Perlintasan sebidang yang ilegal biasanya dijaga oleh masyarakat atas inisiatif sendiri," kata Suhup pada Minggu (13/8).

Meski telah dijaga atas swadaya masyarakat, namun Suhup tetap menyangsikan hal itu.

Selain tidak berkompetensi dalam bidang lalu lintas perkeretaapian, mereka juga tidak dibekali peralatan untuk memonitor kedatangan kereta seperti radio, sirine dan palang pintu.

"Masyarakat hanya mengandalkan penglihatan dari kejauhan untuk mengetahui kedatangan kereta, sangat berbeda dengan petugas resmi," ujar Suhup.

Menurutnya pandangan mata seseorang cukup terbatas, hanya mampu melihat benda besar seperti kereta sejauh 200-300 meter.

Berbeda dengan alat resmi petugas yang mampu memberikan tanda lewat sirine kedatangan kereta dari jarak sekitar 500 meter lebih.

Halaman
123
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help