WartaKota/
Home »

Depok

Pansus Angket, Nilai Safe House KPK di Cipayung Depok Menyedihkan

Usai menyambangi safe house KPK di Depok, Pansus Hak Angket KPK menilai apa yang disebut safe house oleh KPK ternyata kondinya menyedihkan.

Pansus Angket, Nilai Safe House KPK di Cipayung Depok Menyedihkan
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Agun Gunandjar, Arteria Dahlan, Masinton Pasaribu, anggota Pansus KPK bersama Niko Panji Tirtayasa di rumah sekap. 

WARTA KOTA, DEPOK - Usai menyambangi safe house atau rumah aman KPK di Jalan TPA, RT 3, RW 3, Kelurahan/Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Pansus Hak Angket KPK menilai apa yang disebut rumah aman atau safe house oleh KPK di sana, ternyata kondisinya sangat menyedihkan dan sangat tidak layak.

"Jadi pantas Miko menyebutnya rumah sekap dan bukan rumah aman. Karena ia memang merasa tersekap dalam kondisi rumah yang menyedihkan selama setahun di sana," kata Ketua Pansus Angket KPK Agun Gunandjar, di Depok, Jumat (11/8/2017).

Menurutnya, tidak adanya ventilasi yang memadai menambah parah kondisi rumah yang kumuh, kotor dan tidak terawat.

"Rumah itu menjadi bukti bahwa memang rumah tidak layak dikatakan rumah aman. Kalau yang namanya safe house atau rumah aman seharusnya memiliki pelayan khusus dan terawat dengan baik. Jadi menurut saya, sangat tidak layak, dikatakab rumah aman," katanya.

Baca: Ulang Tahun, Gita Gutawa: 24 Tahun Spesialnya Double

Di luar kondisi rumah yang kurang baik, Agun menilai rumah aman bagi saksi seharusnya memiliki dasar hukum sebagaimana yang dimiliki Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

"Jadi kalau mau dikatakan safe house, maka harus ada keputusan penetapan dari LPSK," kata Agun.

Anggota Pansus Angket KPK lainnya Arteria Dahlan, mengatakan penyebutan rumah sekap seperti yang dikatakan Miko, memang lebih tepat jika melihat kondisi rumah.

Baca: Pencuri Ini Telah 234 Kali Kanibalkan Mobil Lelang dengan Mobil Curian

"Apalagi dari keterangan Miko, saat ia berada di sana, di depan pintu utama itu di jejer barang hingga hampir menutup pintua depan sekalipun pintu dibuka. Jadi memang kondisi rumah tidak manusiawi saat itu," katanya di Depok, Jumat (11/8/2017).

Menurutnya dalih KPK bahwa Miko tetap boleh bersosialisasi dengan warga dan keluarga saat di sana juga tampaknya patah.

"Sebab untuk bertemu keluarga saja, Miko harus diam-diam dan dibantu pengawalnya yang mulai kasihan kepadanya. Jadi tanpa sepengetahuan KPK ia sembunyi-sembunyi bertemu keluarga atas bantuan pengawalnya," kata Arteria.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help