Dirut PT IBU Tersangka Dugaan Oplos Beras Premium

Status tersebut ditetapkan lantaran PT IBU dinilai terbukti melakukan kecurangan sekaligus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Dirut PT IBU Tersangka Dugaan Oplos Beras Premium
Kontan
Ilustrasi beras. 

WARTA KOTA, SEMANGGI -- Penyidikan terkait kasus pengoplosan beras premium yang dilakukan PT Indo Beras Unggul (IBU) menetapkan Direktur Utama PT IBU, Trisnawan Widodo sebagai tersangka.

Status tersebut ditetapkan lantaran PT IBU dinilai terbukti melakukan kecurangan sekaligus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Perkembangan penyidikan tersebut disampaikan Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Mabes Polri, Kombes Martinus Sitompul berdasarkan hasil gelar perkara, usai penggerebekan di gudang beras PT IBU di Jalan Rengasbandung KM 60, Karangsambung, Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi pada Kamis (20/7/2017) lalu.

Dalam kasus yang diungkap Tim Satgas Pangan yang dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman itu, PT IBU terbukti mengoplos beras premium merek Maknyuss dan Cap Ayam Jago dengan beras setara jenis IR 64.

Padahal, PT IBU menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada masing-masing kemasan beras premiumnya yang seharusnya berkualitas mutu 1.

"Ibarat orang mau membeli beras, hak konsumen mengetahui kualitas dan mutunya. Di sini, konsumen tidak tahu mutu berasnya, yang jelas harga per kilogramnya Rp 20.400, tapi nggak tahu kualitasnya seperti apa," katanya kepada wartawan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (2/7/2017).

Kecurangan tersebut lanjutnya, diketahui usai pihaknya melakukan uji laboratorium, kualitas beras dari beras Maknyuss dan cap jago ayam ternyata berada di bawah mutu 1. Artinya beras tersebut tidak sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan dalam SNI 2008.

"Mutunya tidak sesuai dengan SNI. Bisa mutu 2, bisa mutu 3, yang jelas di bawah mutu sesuai SNI," tambah Martinus.

Dalam kemasan beras dari kedua merk tersebut, PT IBU juga mencantumkan angka kecukupan gizi (AKG) dalam nilai persen. AKG sendiri semestinya hanya digunakan untuk produk makanan olahan, sementara beras bukanlah produk olahan yang mestinya dicantumkan nilai komposisi.

"Di label kemasan dicantumkan AKG, yang seharusnya ditampilkan adalah komposisi dari beras itu, namun yang ditampilkan angka kecukupan gizi," tutur Martinus.

Terkait dugaan kecurangan sejak tahap produksi tersebut, polisi kini mengusut ke arah tindak pidana pencucian uang (TPPU). Bersamaan dengan pemeriksaan sebanyak 23 orang saksi termasuk 11 orang saksi ahli, polisi kini telah menahan TW di rumah tahanan Bareskrim Polri di Polda Metro Jaya setelah diperiksa sebanyak dua kali.

"Proses produksi, buat kemasan dan beberapa pelanggaran perlindungan konsumen, ini predicate crime yang bisa kita tindaklanjuti untuk TPPU," kata Martinus.

TW disangkakan pasal pasal 382 bis KUHP, Pasal 141 Undang Undang nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, seeta Pasal 62 Undang aundang nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ia terancam dipidana maksimal 20 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help