Fadli Zon Nilai Logika Jokowi Salah Soal Presidential Threshold

Fadli mengatakan, tidak ramainya persoalan PT 20 persen sebelumnya karena memang pemilu-nya tidak serentak.

Fadli Zon Nilai Logika Jokowi Salah Soal Presidential Threshold
WARTA KOTA/BUDI MALAU
Fadli Zon di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Selasa (18/4/2017). 

WARTA KOTA, SENAYAN - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, syarat ambang batas pencalonan presiden (Presidential Threshold) berpotensi membuat gaduh.

Menurutnya, Presiden Jokowi dianggap salah dalam berargumentasi.

Ada pun mantan Gubernur DKI Jakarta itu memandang aneh jika presidential threshold atau ambang batas presiden sebesar 20 persen, baru diributkan hari ini. Sebelumnya, PT tersebut telah dipakai pada Pemilu 2009 dan 2014.

Baca: Prabowo Sebut Presidential Threshold Lelucon Politik, Jokowi: Kenapa Dulu Tidak Ramai?

Fadli mengatakan, tidak ramainya persoalan PT 20 persen sebelumnya karena memang pemilu-nya tidak serentak.

Saat itu, pemilu legislatif diselenggarakan terlebih dahulu. Setelah ada hasilnya, baru dilaksanakan pilpres.

"Kalau sekarang ramai, pemilunya serentak, terus pakai threshold yang mana? Oh, threshold bekas yang dulu? Ini logika sederhana, ini elementer. Menurut saya salah logika itu," kata Fadli kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (31/7/2017).

Baca: Prabowo Subianto: Presidential Threshold 20 Persen Adalah Lelucon Politik yang Menipu Indonesia

Wakil Ketua DPR ini mengaku yakin bahwa penghapusan Presidential Threshold tidak akan berpengaruh kepada dukungan pemerintah di parlemen.

"Karena kita bukan sistem oposisi murni. Kalau misalnya yang menang didukung 20 persen, sementara 80 persen tidak mendukung, kan sama saja," tuturnya.

Fadli Zon juga menilai tidak tepat jika Presidential Threshold tetap digunakan pada pilpres berikutnya.

Baca: Fadli Zon: Presidential Threshold 20 Persen Sudah Basi

Sebab, Mahkamah Konstitusi sudah memutuskan bahwa Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pilpres digelar serentak mulai 2019 mendatang.

"Harusnya tidak boleh lagi," cetus Fadli. (*)

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help