WartaKota/

Tragis Puluhan Anak dari Keluarga Miskin di Kabupaten Bekasi Alami Gizi Buruk

Mereka yang menderita gizi buruk mayoritas berasal dari kalangan masyarakat miskin.

Tragis Puluhan Anak dari Keluarga Miskin di Kabupaten Bekasi Alami Gizi Buruk
Warta Kota
Ilustrasi. Berat badan Haikal hanya 8 kilogram, sangat jauh dari jumlah ideal anak seusianya dengan berat 21 kilogram. Kedua tangan dan kakinya serta wajah Haikal terlihat kurus, namun perutnya membusung. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi mencatat jumlah penderita gizi buruk di wilayah setempat mencapai 81 anak hingga 2017.

Mereka yang menderita gizi buruk mayoritas berasal dari kalangan miskin.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Bekasi, Supriyadi menjelaskan, penderita gizi buruk tersebar di berbagai kecamatan.

Namun, mereka pada umumnya berada di daerah pedesaan seperti Cabangbungin, Pebayuran, Babelan, Setu dan sebagainya.

"Jumlah penderita gizi buruk di tahun ini ada 81 anak. Belum menembus angka ratusan seperti di tahun lalu mencapai 280 anak," ujar Supriyadi pada Senin (31/7/2017).

Selain latarbelakang perekonomiannya rendah, kata dia, minimnya pengetahuan tentang asupan gizi juga menjadi faktor adanya gizi buruk. Akibatnya, anak-anak di sana kurang mendapat asupan makanan bergizi seperti daging, sayuran, buah dan ikan serta susu.

Tidak hanya itu, kata dia, kondisi sanitasi lingkungan juga menjadi pemicu lain adanya gizi buruk. Lingkungan yang kotor dapat berimbas pada kondisi kesehatan anggota keluarga, lantaran bisa mencemari beberapa bahan makanan yang diolah menjadi hidangan saat dimasak. "Intinya faktor makanan yang sangat berpengaruh terhadap gizi buruk," jelasnya.

Guna menanggulangi persoalan itu, pihaknya telah melakukan penanggulangan dengan memberi pelayanan kesehatan di rumah sakit. Bahkan, memfasilitasi kebutuhan seperti memberikan imunisasi, obat-obatan dan makanan bernutrisi di Posyandu.

Menurut dia, gizi buruk tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik anak saja. Namun berimplikasi pada penurunan metabolisme tubuh, daya berpikir berkurang (motorik otak) serta pertumbuhan berjalan lambat.

Berdasarkan catatannya, pada 2016 lalu ada 280 anak yang menderita gizi buruk. Jumlah ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya pada 2015 lalu mencapai 250 anak. "Mayoritas yang terkena gizi buruk berada di usia 1-7 tahun," katanya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bekasi, dr. Komarudin Askar menyampaikan, penderita gizi buruk kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah, karena mereka menganggap kebutuhan gizi untuk anaknya cukup mahal dari kebutuhan yang lain. Karena itu, mereka lebih mengutamakan kebutuhan primer dibanding kebutuhan lain.

Sebetulnya, kata dia, asupan gizi tidak perlu mahal. Di Indonesia ini, sudah ada Posyandu dan layanan Puskesmas, sehingga pelayanan di sana bisa menjembatani kebutuhan anak mendapatkan gizi. "Karena ada pengawasan pertumbuhan juga di Posyandu. Jadi tidak perlu mahal," kata Komarudin.

Seperti diberitakan, Haikal Febriyan Saputra (6), warga Jalan Gradua III RT 02/04, Desa Cijengkol, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Berat badannya hanya delapan kilogram, jauh dari ideal sekitar 21 kilogram, dan kini dirawat di RSUD Kota Bekasi.

Haikal menderita gizi buruk sejak usia empat tahun setelah orang tuanya Nursin dan Asmanah meninggal dunia. Haikal kemudian diasuh oleh neneknya Bonah (60) yang seorang pemulung, dengan penghasilan tak lebih dari Rp 150.000 per tiga hari.

Salah seorang warga setempat, Gunawan Irianto menyebut, warga membawa Haikal Febriyan ke RSUD Kota Bekasi karena telah mendapat informasi bahwa rumah sakit itu telah siap menerima. "Karena sudah mendapat informasi itu, makanya langsung dibawa ke RSUD Kota Bekasi," jelas Gunawan.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help