Boikot Iklan untuk Perbaiki Tayangan Buruk TV, Begini Penjelasan Rapotivi

Rapotivi mengemukakan, selain warga dapat mengadukan tayangan buruk ke komisi terkait, ada alternatif lain yang dapat membuat stasiuan TV menjadi jera

Boikot Iklan untuk Perbaiki Tayangan Buruk TV, Begini Penjelasan Rapotivi
id.techinasia.com
ilustrasi tayangan buruk 

WARTA KOTA, PALMERAH --  Pegiat pada Rapotivi mengemukakan, selain warga dapat mengadukan tayangan buruk ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), sebenarnya ada alternatif lain yang bisa dijadikan alat untuk membuat stasiun TV jera.

Alternatif itu menurut Rapotivi dalam taklimatnya yang diterima Warta Kota hari ini menyatakan, aksi boikot terhadap produk-produk yang mensponsori tayangan TV buruk dapat menjadi “hukuman” dari pemirsa agar stasiun TV tak lagi menayangkan program-program yang tak bermutu, terutama yang membodohi masyarakat.

Rapotivi adalah aplikasi Android untuk memudahkan warga mengadukan tayangan televisi buruk. Setiap aduan yang masuk, setelah diverifikasi, akan diteruskan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Tim Rapotivi akan secara berkala melaporkan status aduan yang disampaikan oleh warga dengan mengawal proses yang ada di KPI.

"Tayangan televisi tampak seperti hadir dengan 'cuma-cuma' alias 'gratis' dalam rumah kita. Padahal, penonton sejatinya adalah pekerja tak kasat mata yang dimanfaatkan stasiun televisi untuk mendatangkan pundi-pundi uang yang memperkaya pemilik stasiun televisi," kata pegiat Rapotivi, Nurvina Alifa Dharmawan, dalam publikasi Rapotivi .

Tanpa partisipasi penonton, tegasnya, stasiun TV tak mungkin mampu menjaring pengiklan. Karenanya, untuk mendapatkan iklan, diperlukan suatu tolak ukur yang mampu mewakili seberapa banyak penonton suatu program.
"Di sinilah fungsi rating dan share. Dalam industri televisi, rating dan share berfungsi sebagai alat tukar. Yang dipertukarkan ialah jumlah penonton dan iklan," ujarnya.

Selanjutnya Rapotivi menyodorkan catatan, di Indonesia, angka rating dan share diperoleh dari lembaga bernama Nielsen Media Research (NMR).

Dari 52 juta rumah tangga yang memiliki pesawat televisi di Indonesia, Nielsen memilih kurang lebih 2.200 di antaranya untuk dijadikan panel.

Panel adalah rumah tangga yang dijadikan sampel yang dipilih berdasarkan demografi tertentu: usia ( 5 tahun ke atas), status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.

Untuk memperoleh data kepemirsaan, urai Rapotivi, setiap televisi yang memiliki panel dipasangi alat yang bernama peoplemeter. Setiap anggota keluarga dalam panel diminta untuk menekan suatu tombol yang mewakili dirinya (ayah/ibu/anak) setiap kali hendak menonton televisi.

Halaman
123
Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved