WartaKota/
Home »

News

» Jakarta

Penataan PKL di Jakarta

PKL yang Dibina Pemprov DKI Hanya itu-itu Saja

"Mereka yang dibina juga jadi lebih maju, sehingga ada PKL baru lagi yang dibina. Kenyataannya, kadang yang dibina ya PKL yang itu-itu saja."

PKL yang Dibina Pemprov DKI Hanya itu-itu Saja
Warta Kota/Mohamad Yusuf
William Yani 

Liputan Khusus Wartawan Wartakotalive.com Ichwan Chasani dan Dwi Rizki

WARTAKOTA, PALMERAH-- Anggota Komisi B DPRD DKI Jaya, William Yani, menilai konsep loksem dan lokbin saat ini masih jauh dari harapan dalam menata PKL.

"Lokbin-loksem sekarang ya begitu-begitu saja. Kemajuannya ada, cuma jauh sekali dari yang diharapkan. Konsepnya itu kan harusnya membuat PKL lebih baik dari semula," kata Willian.

"Mereka yang dibina juga jadi lebih maju, sehingga ada PKL baru lagi yang dibina. Kenyataannya, kadang yang dibina ya PKL yang itu-itu saja, tidak ada PKL yang baru," tambahnya.

Menurut William Yani, yang tepat sebenarnya setiap kecamatan ada lokasi khusus untuk pedagang kaki lima (PKL), bukan loksem dan lokbin seperti saat ini yang sifatnya sementara.

Dia menyarankan sebaiknya Pemprov DKI Jakarta memiliki bank tanah (land bank) dengan membeli tanah khusus bagi para PKL di setiap kecamatan.

"Pemprov jangan ragu-ragu untuk membeli tanah di mana-mana. Harga berapa pun harus dibeli. Konsep lokbin dan loksem itu diteruskan, tapi lokasinya jangan di pinggir jalan lagi, dipindahkan di satu lokasi khusus di tiap kecamatan. Di DKI Jakarta ada 44 kecamatan, jadi minimal ada 44 lokasi khusus untuk PKL," kata William.

William mengatakan, lokasi khusus PKL di setiap kecamatan itu minimal menggunakan lahan 2 hektar agar bisa menampung banyak PKL.

Jika sudah ada lokasi khusus PKL dan ternyata masih ada PKL yang berdagang di luar area tersebut, harus dilakukan penindakan.

"Jadi harus ada lahan khusus. Kalau tetap menggunakan lahan di pinggir jalan, itu tidak memberi jalan keluar yang baik bagi PKL, juga bagi pengguna jalan lainnya," kata William. (chi/dwi)

Editor: Suprapto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help