Ini Penjelasan Pihak CSR dan Pemerintah Soal Keluhan Warga Bedah Rumah di Cilincing

Sejumlah warga terkena program bedah rumah di Kawasan RT 015/003 Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara, mengeluh dan merasa kecewa terkait hal

Ini Penjelasan Pihak CSR dan Pemerintah Soal Keluhan Warga Bedah Rumah di Cilincing
Warta Kota/ Panji Baskhara Ramadhan
Koordinator Bedah Rumah Kecamatan Cilincing, Marta, kala diwawancarai wartawan di Posko Pengendali Program Bedah Rumah Pemprov DKI Jakarta, Cilincing, Jakarta Utara, pada Kamis (6/7/2017), siang. 

WARTA KOTA, CILINCING - Sejumlah warga terkena program bedah rumah di Kawasan RT 015/003 Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara, mengeluh dan merasa kecewa terkait hal hasil kinerja tim bedah rumah seusai rumah mereka dibedah.

Keluhan itu seperti dalam rumah jadi panas dan pengap, hingga pemasangan listrik harus membayar ongkos sebesar Rp 150.000.

"Jadi begini, permasalahan di dalam rumahnya menjadi hawa panas, pintunya pun kurang, nah kami di dari Corprate Social Responbility (CSR) dan pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu hanya sebatas memfasilitasi saja," papar Marta selaku Koordinator Bedah Rumah Kecamatan Cilincing, kala di Posko Pengendali Program Bedah Rumah Pemprov DKI Jakarta, Kamis (6/7/2017), siang.

Diungkapkan Marta, CSR yakni PT Tata Logam Lestari dan pemerintah dikatakannya sebagai pelaksana untuk jalani program bedah rumah.

Baca: Program Bedah Rumah di Cilincing Terkendala Kekurangan Pekerja

Tak hanya itu, Marta mengatakan pihaknya itu saling bersinergi satu sama lain, untuk monitor proses rumah yang rencananya akan dibedah sebanyak 83 rumah.

"Pemprov DKI itu hanya memfasilitasi, hanya sebagai pelaksananya dan monitor. Jadi yang mendanai kan pihak CSR, tidak ada memakai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Karena memang yang mendanai jalannya soal ini (bedah rumah), ya CSR. Kami juga monitor," jelasnya.

Ia mengatakan, awal berlangsungnya program bedah rumah, diawali dengan pendataan para warga mana saja yang butuhkan rumahnya itu untuk dibedah.

Kemudian, pemerintah dengan pihak CSR memberikan bentuk gambaran soal pembedahan rumah itu.

"Kalau bedah rumah itu, beda-beda kriterianya. Permasalahannya beda-beda. Soal bentuk dan oermasalahan lain rumah itu sebelum dibedah, kita sudah catat. Nah disaat kami memberikan gambar sketsa desian rumahnya, si pemilik itu rumah ya mengaku setuju. 'Ya saya mau kalau dibedah rumah saya'. Itu, sambil diperlihatkan gambar desainnya. Saya enggak nyangka saja, banyak mengeluhkan akan hasil dari program bedah rumah ini," jelasnya.

Program percontohan

Aldo sebagai Supervisi PT Tata Logam Lestari mengatakan, perihal sejumlah keluhan warga yang usai rumahnya dibedah di Cilincing, mengatakan, sudah mengetahuinya. Ia mengaku jika program bedah rumah adalah program percontohan.

"Jadi program bedah rumah itu percontohan di sini (Cilincing). Sebenarnya, bisa kok memakai dana APBD, akan tetapi karena ini percontohan makanya pakai dana CSR. Namun, Pemprov ini memfasilitasi semua, baik pendataan dan lain-lain. Untuk dari Tata Logam Lestari sendiri pun hanya dibagian spek pekerjaannya. Antara lain struktur rangka atap, berkaitan bahan metal ya dan memang itu style perusahaan kita," papar Aldo.

Ia melanjutkan, "Contoh, PT Tata Warna itu cat dan semen, heubel (batako), pasir dan lain-lain ya. Kita dari Tata Logam Lestari lebih dominan sebagai eksekutornya membedah rumah. Tapi dari CSR lain mendungkung program di bedah rumah ini," ungkapnya.

Penulis: Panji Baskhara Ramadhan
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved