WartaKota/

Lebaran 2017

Para Perantau ini Harus Berhemat agar Kerinduan Pulang Kampung Terbayar

Momen Hari Raya Idul Fitri dimanfaatkan oleh banyak perantau asal Indonesua untuk pulang kampung dengan cara berhemat.

Para Perantau ini Harus Berhemat agar Kerinduan Pulang Kampung Terbayar
Warta Kota/Rangga Baskara
Edi (kiri) dan Agung (kanan) bersama tiga rekannya sesama perantau tengah berada di Staisun Gambir, Jakarta, setelah menempuh perjalanan mudik ke Tanah Air dari tempat perantauan mereka di Sabah, Malaysia. Darui Gambir mereka menuju kampung halaman masing-masing di Pulau Jawa untuk merayakan Lebaran 2017 bersama sanak keluarga. 

WARTA KOTA, GAMBIR -- Momen perayaaan Idul Fitri dimanfaatkan oleh banyak para perantau asala Indonesua untuk pulang kampung. Tak terkecuali Edi (34) perantau asal Surabaya, Jawa Timur dan Agung (33) asal Porwokerto, Jawa Tengah ini.

Selama ini mereka berdua hidup sebagai perantau kota Sabah, Malaysia, bersama tiga teman mereka. Mereka bekerja sebagai guru di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu.

Setelah bekerja hampir setahun sebagai guru di Kinabalu, kelima pengajar ini mengaku merasa rindu kampung halaman lalu memutuskan untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.

"Saya dari Surabaya, ngajar SMA untuk Mata Pelajaran Sejarah. Baru setahun ngajar di sana," ungkap Edi ketika ditemui Warta Kota di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Senin (19/6).

Tetapi sebelum tiba di Tanah Air, mereka berlima meluangkan waktu untuk berjalan-jalan ke Singapura. Kemudian dari Bandara Changi Airport Singapura mereka baru terbang menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Untuk mencapai Singapura, mereka sengaja memilih alat tranpsortasi yang harus transit di beberapa tempat. Tujuannya adalah untuk menekan biaya tiket. "Ongkosnya lumayankah," tutur Edi

Dari Sabah ke Kuala Lumpur mereka naik pesawat dengan tiket seharga Rp 600.000. Lalu dari Kuala Lumpur ke Singapura mereka naik bus dengan tiket seharga Rp 150.000.

"Selanjutnya dari Singapura ke Soekarno-Hatta kami membeli tiket pesawat seharfa Rp 1.000.000. Terus dari Gambir ke Surabaya kami mengleurkan biaya tiket kereta seharga Rp 500.000," ungkapnya.

Oleh sebab itu, sebelum mudik, jauh-jauh hari mereka telah memesan tiket agar mudik berjalan lancar.

Kerinduan terhadap kampung halaman yang begitu besar membuat mereka tak mempedulikan jumlah biaya yang harus dikeluarkan. Namun mereka tetap merasa perlu berhemat sehingga pilihan ngeteng harus dilakukan.

"Udah tak terhitung ongkosnya. Tapi yang namanya Lebaran setahun sekali, kami tetal harus pulang," kata Agung, si perantau asal Purwokerto, Jawa Tengah menutup pembicaraan.

Editor: YB Willy Pramudya
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help