WartaKota/

Sering Dilempari Batu, Bus AKAP Terpaksa Pakai Tameng

pelemparan dari oknum tidak bertanggung jawab masih banyak terjadi, untuk daerahnya bukan hanya di lintas Sumatera saja, tapi di pulau Jawa, dan Bali

Sering Dilempari Batu, Bus AKAP Terpaksa Pakai Tameng
haltebus.com
Demi keselamtan, sopir bus pasang tameng kawat di kaca depan 

WARTA KOTA, JAKARTA- Pemasangan tameng kawat di kaca bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) diklaim bukan sebagai modifikasi atau tren. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi para sopir dan perusahaan otobus (PO) dalam menghadapi aksi pelemparan batu yang sering terjadi di daerah operasionalnya.

Selain untuk perlindungan sopir, pemasangan kawat di kaca bus juga berguna untuk melindungi keselamatan penumpang dan pengendara lain disekitarnya. Karena sudah banyak kasus pelemparan di kaca busyang berujung pada kecelakaan baik untuk bus itu sendiri atau melibatkan pengguna jalan lainnya.

"Penggunaan tameng itu bukan lagi tren tapi karena terpaksa untuk perlindungan. Kalau dari sisi sopir sebenarnya memasang tameng kawat di kaca tersebut sangat melelahkan, kenapa karena pandangannya terhalang sehingga membutuhkan konsentrasi yang ekstra saat berkendara," ucap A.M. Fikri sebagai pemerhati transportasibus saat dihubungi KompasOtomotif, Kamis (15/6/2017).

Menurut Fikri sampai detik ini aksi pelemparan dari oknum tidak bertanggung jawab masih banyak terjadi, untuk daerahnya bukan hanya di lintas Sumatera saja, tapi di pulau Jawa, dan Bali. Hal ini dinilai sangat merugikan untuk PO bus, karena tidak jarang dalam satu bulan ada yang bisa mengganti kaca depan sampai dua kali akibat pelemparan tersebut. 

Sedangkan untuk solosinya, sampai saat ini belum ada kejelasan, karena dari pihak kepolisian pun tidak ada respon meski sudah berkali-kali dilaporkan.

"Diharapkan ada respon yang serius dari pihak Kemenhub dan kepolisian, karena kejadian-kejadian ini sangat merugikan, baik dari PObus maupun untuk keselamatan penumpang busnya juga," ucap Fikri.

Berita ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul "Tameng Kawat Bukan Tren, Tapi Terpaksa"

Editor: ahmad sabran
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help