Rabu, 15 April 2026

Persekusi Bukan Tabayun

Maraknya aksi persekusi menjadi sorotan publik saat ini. Pihak yang melakukan aksi tersebut pun sudah banyak terciduk.

TRIBUNNEWS/LENDY RAMADHAN
Ray Rangkuti jadi pembicara acara Kaleidoskop Perjuangan Relawan Jokowi yang digelar di Plaza Atrium Senen, Jalan Senen Raya, Jakarta Pusat, Minggu (24/4/2016). 

WARTA KOTA, PALMERAH - Maraknya aksi persekusi menjadi sorotan publik saat ini. Pihak yang melakukan aksi tersebut pun sudah banyak terciduk.

Pengamat Pengamat Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menuturkan, aksi persekusi kerap terjadi karena para pelaku mencari alasan untuk tabayun (klarifikasi). Padahal, kata Ray, dua hal tersebut berbeda.

"Mereka menghaluskan kata persekusi sebagai tabayun. Padahal tabayun itu mencari kebenaran," ujar Ray di diskusi IKANI, Jakarta, Minggu (4/5/2017).

Baca: Wakil Ketua Komisi VIII Usulkan Tradisi Sidang Isbat Dihapus, Ini Solusi yang Disodorkan

Ray memaparkan, jika aksi tabayun harus mengintimidasi, maka pelaku sudah melakukan persekusi. Apalagi, kata Ray, oknum tersebut sudah memvonis bersalah terhadap seseorang.

"Tabayun upaya mencari kebenaran suatu peristiwa dengan cara dialog. Tapi Anda datang ke satu orang dan mengatakan dia salah, itu bukan tabayun," jelas Ray.

Ciri-ciri orang yang melakukan persekusi, tutur Ray Rangkuti, adalah memutuskan kesalahan atau kebenaran secara sepihak. Selain itu, mereka memaksa orang tersebut untuk meminta maaf.

"Kalau persekusi mereka langsung bilang 'Dia sudah pasti salah, dan harus minta maaf'," papar Ray. (*)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved