WartaKota/

Jika Militan Pro ISIS Menang di Marawi, Indonesia Bisa Jadi Target Berikutnya

Al Chaidar, pengamat terorisme mengingatkan, konflik tersebut bisa menyebar sampai Tanah Air.

Jika Militan Pro ISIS Menang di Marawi, Indonesia Bisa Jadi Target Berikutnya
Kompas.com
ILUSTRASI 

WARTA KOTA, PALMERAH - Konflik yang terjadi antara kelompok bersenjata pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) melawan militer Filipina di Marawi, Filipina Selatan, harus diantisipasi.

Al Chaidar, pengamat terorisme mengingatkan, konflik tersebut bisa menyebar sampai Tanah Air.

Saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (30/5/2017), ia mengingatkan bahwa jarak Marawi dengan perbatasan Indonesia tidaklah jauh. Bisa dikatakan, bukanlah hal sulit bagi seorang warga Indonesia berangkat ke Marawi, jika perbatasan tidak dijaga dengan baik.

"Sudah berapa WNI yang ada di sana? Saya belum tahu, tapi saya dapat informasi, sudah ada sekitar empat ribu orang yang siap berangkat," ujarnya.

Harus diingat, lanjutnya, jumlah WNI muslim yang berpaham radikal sekitar 2 persen dari total populasi. Al Chaidar menyebut 2 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta orang, tentu lebih banyak dari jumlah pendukung ISIS di Filipina.

Menurutnya, bukan hal yang tidak mungkin jika ribuan WNI berbondong-bondong berangkat ke Marawi untuk ikut berperang bersama kelompok bersenjata pendukung ISIS, untuk mengalahkan militer Filipina. Jika kelompok tersebut menang, maka Indonesia harus khawatir.

"Kalau mereka bisa menang, wah, itu akan jadi kebanggaan tersendiri. Itu jadi acuan mereka, dan selanjutnya mereka akan buat hal yang sama di Indonesia," tuturnya.

Jika sekitar 4.000 WNI yang berniat berangkat ke Marawi bisa lolos dan ikut berperang, mereka tentunya mendapatkan pelatihan dan pengalaman tempur yang memadai. Jika mereka kembali, pengetahuan dan pengalaman itu bisa diterapkan untuk memulai pertempuran yang sama di Indonesia.

Hal serupa, papar Al Chaidar, pernah dicoba di Poso, Sulawesi Tengah. Namun hal itu bisa dipatahkan melalui kerja sama TNI-Polri. Sampai sekarang aparat masih mengejar kelompok Santoso yang tersisa. Jika Marawi jatuh, tentunya jumlah kombatan yang akan melawan aparat jauh lebih banyak daripada jumlah pendukung Santoso.

"Harus diingat juga, bahwa kita punya banyak jalur untuk mereka menyelundupkan senjata, dan TNI kita dikebiri oleh undang-undang, jadi tidak bisa ikut pemberantasan teroris. Jadi sangat mungkin Indonesia terdampak," ulasnya. (*)

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help