citizen journalist

Pemeriksaan Badan di Bandara : Kewenangan vs Etika

Kewenangan pemeriksaan badan telah memasuki wilayah hak privasi seseorang yang tidak jarang menimbulkan ketidaknyamanan bagi terperiksa.

Pemeriksaan Badan di Bandara : Kewenangan vs Etika
WARTA KOTA/ANDIKA PANDUWINATA
Paket biawak dan ular langka usai pemeriksaan di Kantor Pos Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa, sempat menggegerkan para pegawai di sana. 

Jika hasil awal kecurigaan petugas semakin kuat, terperiksa diajak ke suatu tempat khusus yang tertutup, diberi penjelasan soal pemeriksaan, dan petugas pemeriksa berjenis kelamin sama dengan terperiksa.

Alternatif kedua : Orang yang mau masuk dari luar negeri dibiarkan begitu saja tanpa ada filter dan pemeriksaan untuk mejamin hak privasi seseorang dengan mengabaikan risiko. Misalnya, risiko bahaya narkoba.

Berdasarkan dua pilihan alternatif tersebut, alternatif pertama memberikan nilai utilitas yang jauh lebih besar daripada alternatif kedua meskipun harus mengorbankan kepentingan privasi seseorang terperiksa yang terbukti tidak bersalah membawa narkoba.

Jadi, menurut pendapat prinsip utilitarianisma pemeriksaan badan oleh petugas bea cukai benar menurut sudut pandang etika.

Namun demikian, bagi terperiksa yang terbukti tidak bersalah telah mengalami pelanggaran hak privasi yang dibenarkan secara etika.

Terperiksa berhak atas keadilan kompensatif sehingga untuk memulihkan haknya sudah sepantasnya bahkan wajib hukumnya secara etika bagi petugas untuk menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami.

Serta ucapan terima kasih atas kerja sama yang diberikan selama proses pemeriksaan.

Permohonan maaf di sini konteksnya bukan karena petugas melakukan kesalahan tetapi lebih kepada perbuatan yang telah melanggar hak privasi yang dibenarkan secara etika dan peraturan perundang-undangan.

Komunikasi yang baik, sikap yang sopan, perkataan yang santun dari petugas Bea dan Cukai akan menjadi jembatan untuk mempertemukan antara kepentingan tugas mengamankan dan hak privasi terperiksa.

Jika ini dilakukan dengan baik, tentu tidak timbul kekecewaan dari terperiksa yang kemudian keluhannya disampaikan secara luas melalui media. Buntutnya, keluahan itu berdampak negatif bagi citra bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang sedang terus memperbaiki diri sesuai dengan tagline-nya "Bea Cukai Harus Makin Baik".

Paroji
Mahasiswa Magister Akuntansi
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Editor: Tri Broto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help