Ribuan Perusahaan Swasta di Bekasi Tidak Lapor Buang Limbah

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi menambahkan, masih ada perusahaan yang nakal.

Ribuan Perusahaan Swasta di Bekasi Tidak Lapor Buang Limbah
Warta Kota/Bintang Pradewo
ILUSTRASI - Selain banyak endapan, keberadaan saluran air menjadi rusak akibat pembuangan limbah oleh hotel. 

WARTA KOTA, BEKASI - Ribuan perusahaan swasta di Kota Bekasi terindikasi membuang limbah yang tidak sesuai baku mutu lingkungan di wilayah setempat. Sebab baru 120 perusahaan saja yang melaporkan pengelolaan limbahnya ke pemerintah daerah.

Kepala Bidang Persampahan dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Dadang Mulyana mengatakan, jumlah perusahaan di wilayah setempat berkisar 1.200 perusahaan.

Dari jumlah itu, baru 10 persen atau 120 perusahaan saja yang melapor pengelolaan limbahnya ke pemerintah.

"Laporan pengelolaan limbah wajib diberikan ke pemerintah, mengingat dampak limbah terhadap lingkungan sangat berbahaya," ujar Dadang pada Senin (15/5/2017).

Dadang menjelaskan, ribuan perusahaan itu tersebar di 12 kecamatan yang ada di Kota Bekasi. Namun mayoritas berada di Kecamatan Bantargebang, Medansatria dan Bekasi Utara karena di wilayah setempat banyak berdiri pabrik yang bergerak di berbagai bidang.

Berdasarkan pendataannya, ribuan pabrik itu membuang limbah di 200 titik. Ada yang membuang di kali, saluran air dan udara bebas. Sebetulnya, kata Dadang, mereka berhak membuang limbah, namun harus sesuai dengan baku mutu lingkungan. 

"Sebelum dibuang, limbah harus melewati proses pengolahan atau bisa menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)," jelasnya.

Dadang menyatakan, telah membentuk tim khusus untuk melakukan pengecekan langsung ke sejumlah perusahaan-perusahaan.

Tujuannya, untuk mengetahui kelayakan mesin pengelolaan limbah dan kadarnya sesuai dengan PP 41 tahun 1996 dan PP 82 tahun 2001 tentang pengendalian pencemaran.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi menambahkan, masih ada perusahaan yang nakal.

dengan mengabaikan aturan pembuangan limbah. Biasanya, mereka baru mengoperasikan mesin pengelolaan limbah bila petugas melakukan inspeksi mendadak (sidak). Akan tetapi, setelah tidak diawasi, bisa saja limbah itu dibuang ke sungai. "Belajar dari pengalaman itu, kami terus melakukan pengawasan dengan membentuk tim," kata Luthfi.

Berdasarkan data yang diperoleh, indikator limbah beracun di air biasanya memiliki kandungan mangan hingga 1,042 miligram, nitrit 0,178 miligram, nitrat 29,6 miligram, amonia 1,04 miligram, zat besi 3,74 miligram dan copper 2,82 miligram.

Sekretaris Komisi A DPRD Kota Bekasi, Solihin mengatakan, pengawasan limbah sebaiknya diperketat. Dia mengkhawatirkan, adanya peristiwa pencemaran limbah Kali Bekasi bisa terulang. "Kali Bekasi pernah tercemar oleh perusahaan yang berdomisili di daerah Kabupaten Bogor. Jangan sampai kejadian ini terulang karena bisa mengganggu produksi air bersih," kata Solihin.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Adi Kurniawan
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved