WartaKota/
Home »

News

» Jakarta

Pilkada DKI Jakarta

Anies-Sandi Menang, Elektabilitas Prabowo Meningkat

"Prabowo dianggap sebagai sosok yang tepat untuk menghadirkan kepemimpinan yang kuat dan mampu menyatukan semua kalangan," ungkapnya.

Anies-Sandi Menang, Elektabilitas Prabowo Meningkat
Warta Kota/Dwi Rizki
Hasil survei pemilihan Presiden 2019 yang dilakukan NCID pada periode April-Mei 2017. 

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU -- Kemenangan Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta tidak terlepas dari sosok Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra.

Beriringan, elektabilitas mantan Danjen Kopassus itu ikut melejit.

Hal tersebut disampaikan, Direktur eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman.

Diungkapkannya, terpilihnya Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 secara langsung mendongkrak popularitas dan elektabilitas Prabowo Subianto.

Konferensi pers Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta, Rabu (19/4/2017).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN)
Konferensi pers Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta, Rabu (19/4/2017).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN) (KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN)

Sebab, berdasarkan hasil survei pemilihan Presiden 2019 yang dilakukan NCID pada periode April-Mei 2017, Prabowo Subianto unggul dengan 35,16 persen dari Presiden Joko Widodo yang mendapatkan suara 31,24 persen, Jusuf Kalla dengan suara 16,40 persen ataupun Panglima TNI Gatot Nurmantyo dengan perolehan suara 8,30 persen.

Sehingga menurutnya, Prabowo berada dalam posisi ideal apabila memutuskan untuk berpartisipasi sebagai Calon Presiden dalam Pemilihan Umum Presiden tahun 2019 mendatang.

"Prabowo dianggap sebagai sosok yang tepat untuk menghadirkan kepemimpinan yang kuat dan mampu menyatukan semua kalangan," ungkapnya.

Berbeda dengan Prabowo, penurunan elektabilitas Jokowi dalam survei yang dilakukan dengan wawancara tatap muka kepada sebanyak 1130 responden dengan metode multistage random sampling itu lantaran meningkatnya ketidakpuasan masyarakat atas sejumlah berbagai kebijakan yang dianggap tidak memihak kepada rakyat.

Kebijakan tersebut di antaranya, kenaikan tarif dasar listrik, pencabutan subsidi dan stabilitas keamanan yang terganggu.

Selain itu, kekuatan hukum yang dianggap semakin melemah, khususnya terkait sejumlah kasus mencolok seperti kasus penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama hingga peristiwa lainnya.

"Banyak kebijakan yang dianggap tidak pro rakyat dan kekuatan hukum yang semakin lemah selama rezim Jokowi. Sementara itu Prabowo dianggap sebagai sosok yang mampu membalikan keadaan," jelasnya. (dwi)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help