Deddy Kunjungi Kakek Leher Miring dan Bocah Kelainan Genetik di Bandung

Sok mangga ibu-ibu abdi pasihan Rp 2 juta pilih balanja naon wae (silakan ibu-ibu, saya berikan uang Rp 2 juta, silakan pilih belanja apa saja)

Deddy Kunjungi Kakek Leher Miring dan Bocah Kelainan Genetik di Bandung
tribun jabar

WARTA KOTA, JAKARTA Bupati Purwakarta yang juga Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengunjungi kota Bandung, Jumat (21/4/2017). Ia menyambangi kediaman abah Tarsa (82) yang selama hampir 2 tahun tinggal di gubug daerah Antapani. Abah Tarsa mengalami gangguan fisik leher yang miring.
Dedi juga menyambangi kediaman Muhamad Fahri Assidiq (11) bocah penderita kelainan genetik, di Jalan AH Nasution, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung.

Pria yang disebut-sebut akan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat ini mendengarkan cerita Abah Tarsa terkait sakitnya itu. Menurutnya, dia sempat awalnya merasakan lehernya tiba-tiba kesemutan, hingga lama-kelamaan membuat kepalanya terjadi perubahan miring ke kiri.
"Abah sudah pernah berobat kemana saja. Tapi enggak ada yang bisa menyembuhkan," ucapnya saat ditemui di lokasi ketika Dedi Mulyadi pun ikut menyambanginya.
Abah Tarsa bertempat tinggal di sebuah gubuk bersama hewan peliharaan para tetangga, dengan kondisi gubuk berada di tengah-tengah ilalang dan ironis berada di kawasan perumahan mewah.
"Ya memang ini tanah milik pengembang, namun tentu saya sudah izin ke pemilik," katanya di gubuk berukuran 2x3 meter tanpa adanya aliran listrik dan kamar mandi

Dedi Mulyadi pun disela kunjungannya memberikan tanggapan terkait fenomena yang terjadi di Kota Bandung ini. Menurut Dedi, fenomena Abah Tarsa merupakan bagian dari kultur pedesaan yang tidak siap untuk hidup gaya perkotaan.
"Abah ini kelahiran tahun 40an sehingga dia perlu habitat dan inilah habitat abah Tarsa, ada domba, ayam, tanaman singkong, kebun pisang, dan lainnya. Hanya kini tinggal perlu dipikirkan terkait kelayakan tempat tinggalnya dan mesti dicarikan solusinya," kata Dedi di lokasi.
Dedi menyebut dirinya telah menghubungi kuasa pemilik tanah untuk memperbaiki kediamannya abah Tarsa. Dengan dirinya akan membanu dari segi menyewa tanah bangunannya itu.
"Ini problem pertanahan perkotaan. Jadi di perkotaan secara umum rakyat gak punya tanah. Dan ini juga termasuk problem kemiskinan perkotaan, nah sedangkan habitat hidup abah Tarsa gak bisa tinggal dan beli rumah susun. Tapi, dia sangat bahagia di sini," ujarnya.

Sedangkan kedatangan Dedi ke rumah Fahri dalam rangka meresmikan toko pakaian yang telah dia danai bersama Dompet Dhuafa. "Alhamdulillah saat ini bisa meresmikan toko pakaian Fahri. Sekaligus saya bayarkan sewa lokasi ini untuk jangka waktu lima tahun biar dapat mandiri. Saya juga minta bu Sani (ibunda Fahri) untuk membuat warung jualan makanan dan konter pulsa, agar uangnya bisa cepat mengalir tiap hari," kata Dedi Mulyadi yang juga Bupati Purwakarta, di lokasi.

Dari pantauan, Dedi Mulyadi yang datang dengan mengenakan pakaian putih, celana hitam, dan peci berwarna hitam dengan pin garuda di pecinya. Dedi Mulyadi pun sempat berbincang-bincang dengan warga sekitar untuk membeli produk pakaian dari toko Fahri, sekaligus di hari pertama peresmian, Demul sapaannya langsung meneraktir warga untuk belanja dengan memberikan dana Rp 2 juta.

"Sok mangga ibu-ibu abdi pasihan Rp 2 juta pilih balanja naon wae (silakan ibu-ibu, saya berikan uang Rp 2 juta, silakan pilih belanja apa saja)," ucap Dedi.

Editor: ahmad sabran
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help