Korupsi KTP Elektronik

Tim Teknis KTP Elektronik Terima 20 Ribu Dolar dari Pemenang Lelang saat ke Amerika Serikat

Johannes Marliem adalah Direktur PT Biormorf dan penyedia produk automated fingerprint identification system (AfIS) merk L-1.

Tim Teknis KTP Elektronik Terima 20 Ribu Dolar dari Pemenang Lelang saat ke Amerika Serikat
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Ilustrasi 

WARTA KOTA, KEMAYORAN - Selain menerima uang dalam jumlah kecil, Staf Badan Pengkajian dan Penerapan Teknlogi (BBPT) Tri Sampurno juga menerima uang sejumlah 20 ribu dolar Amerika Serikat, dari Johannes Marliem.

Johannes Marliem adalah Direktur PT Biormorf dan penyedia produk automated fingerprint identification system (AfIS) merk L-1. Ceritanya, saat itu L-1 sudah ditetapkan sebagai pemenang lelang pengadaan e-KTP.

Tahun 2012, Kementerian Dalam Negeri meminta satu orang dari BPPT sebagai tim teknis e-KTP, untuk mendampingi Husni Fahmi yang akan berangkat ke Amerika Serikat, menghadiri Biometric Consorsium Conference. Di acara yang sangat bergengsi tersebut, Kementerian Dalam Negeri diminta menjadi keynote speaker.

Tri Sampurno berangkat karena Menteri Dalam Negeri berhalangan hadir, lalu didisposisi ke Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil, dan kemudian didisposisi lagi ke Husni Fahmi.

Tri Sampurno kemudian terpilih karena Tri adalah tim teknis yang cukup memahami kondisi dan implementasi sistem biometrik di Kementrerian Dalam Negeri.

Tri Sampurno awalnya menduga biaya perjalanan ke Amerika Serikat ditanggung oleh Kementerian Dalam Negeri, namun dibiayai oleh PT Biomorf dalam hal ini Johannes Marliem.

Saat masih di Bandara Soekarno-Hatta jelang penerbangan ke Amerika Serikat, Tri menerima uang dalam amplop dari pegawai Johannes Marliem. Uang tersebut di luar biaya akomodasi dan transportasi.

"20 ribu dolar AS. Kebetulan yang menerima adalah saya. Waktu itu saya terima ketika pagi hari kami akan berangkat di Bandara Soetta. Saya terima dari pegawai Johanes Marliem," ungkap Tri.

Karena uang tersebut dianggap terlalu besar, Tri memutuskan memberikannya ke Husni Fahmi. Tri Sampurno hanya menerima layaknya jika ada seorang pegawai yang dinas luar negeri yang dibayar 150 dolar untuk satu hari.

"Saya memang tidak banyak pergi ke luar negeri. Tapi pernah ke Inggris. Waktu itu saya dapat 150 dolar per hari. Jadi waktu itu 10 hari (di Amerika) kali 150 jadi 1.500 dollar," tutur Tri Sampurno.

Di Amerika, Tri bertemu dengan Johannes Marliem. (*)

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help