Ketahanan Pangan Indonesia Terancam Perang Cyber

Sikap gotong royong dapat menjaga ketahanan nasional. Perang cyber dinilai sebagai ancaman.

Ketahanan Pangan Indonesia Terancam Perang Cyber
Warta Kota/Nur Ichsan
Ilustrasi. Pekerja sedang melakukan bongkar muat ratusan ton karung beras sedang dibongkar di pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. 
WARTA KOTA, PALMERAH -- Indonesia terancam keutuhannya. Hal itu terjadi akibat serangan non militer. Serangan itu berupa perang cyber yang melanda Indonesia.
Hal itu disampaikan  DR (HC) I Gusti Kompyang Manila, S.Ip dalam diskusi panel serial 2017-2018 bertajuk Menggalang Ketahanan Nasional untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa di Perpustakaan Universitas Indonesia, Kamis (6/4/2017).
Manila menjelaskan, perang cyber saat ini sudah terjadi, karena perbedaan politik.
Perang tersebut telah memecah belah persatuan bangsa ini.
Hanya untuk mendukung jagoanya, para pendukung rela untuk bermusuhan.
Awalnya, berteman karena berbeda pandangan politik akhirnya bermusuhan.
"Saat ini, kita sedang menghadapi perang cyber. Hal ini harus diwaspadai, karena sangat berbahaya. Perang ini lebih dahsyat dari perang militer. Negara yang baru bisa menghadapi perang cyber adalah Jerman. Amerika belum bisa. Bahkan, kondisi Amerika saat ini tengah bergejolak," kata Manila.
Manila menyatakan, Indonesia harus berkaca pada sejarah untuk reaktif dalam mengatasi perang non militer tersebut.
Pada jaman orde baru, mundurnya Presiden Soeharto dari jabatannya bukan karena perang militer.
Hal itu terjadi, karena serangan ekonomi.
Soeharto takluk oleh IMF.
Sebab, Soeharto tak berdaya atas nilai tukar mata rupiah terhadap dolar yang menurun tajam. 
"Tidak ada satu butir peluru pun yang menjatuhkan Soeharto. Begitu juga lepas Timor Timur dari Indonesia. Padahal dalam menjaga keutuhan Timor Timur banyak teman, adik, dan kakak di AMN yang kehilangan nyawanya," kata Manila.
Hal senada disampaikan Ketua Aliansi Kebangsaan, FKPPI dan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti, Pontjo Sutowo.
Pontjo menambahkan, selain perang cyber, ketahanan nasional terancam akibat demokrasi yang kebablasan.
Hal itu memunculkan fundamentalis, liberalis,terorisme, dan komunisme.
Kemudian juga akibat peredaran narkoba yang sudah menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
"Masalah energi juga mengancam ketahanan nasional. Dulu 70 persen APBN berasal dari energi. Saat ini terbalik. APBN mensubsidi energi," ujar Pontjo.
Wakil Rektor Universitas Indonesia Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Bambang Wibawarta, menjelaskan, ada empat hal yang dapat menjaga ketahanan nasional.
Keempat hal itu adalah kemandirian bangsa, meningkatkan nilai kebangsaan, budaya, dan gotong royong.
Untuk kemandirian bangsa, Indonesia saat ini harus mandiri dalam bidang pangan dan energi.
Saat ini Indonesia tergantung impor untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut. Kemudian untuk nilai kebangsaan, maka dapat ditanamankan kecintaan Indonesia pada masyarakat Indonesia.
Bidang budaya merupakan satu-satunya bidang yang dapat menjaga keutuhan Bangsa Indonesia.
Oleh sebab itu, dialog budaya antarsuku Bangsa Indonesia harus diperbanyak.
Sikap gotong royong dapat menjaga ketahanan nasional.
Namun, sikap ini lebih ditujukan mengarah ke kepentingan nasional.
Misalnya melahirkan mobil nasional. Maka dibutuhkan gotong royong dari pemerintah, teknokrat, dan akademisi.
"Saya telah mendirikan koperasi petani di Karawang, Jawa Barat. Hasilnya empat bidang yang dapat menjaga ketahanan nasional dirasakan para petani," kata Bambang.‎
Penulis: Dody Hasanuddin
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help