WartaKota/
Home »

News

» Jakarta

Hujan Es Gemparkan Warga di DKI Jakarta

Hujan es bikin gempar kawasan DKI Jakarta di antaranya melanda kawasan Kramat Jati.

Hujan Es Gemparkan Warga di DKI Jakarta
Kompas.com/ABC
Ilustrasi fenomena hujan es. 

WARTA KOTA, KRAMAT JATI -- Fenomena hujan es terjadi di kawasan DKI Jakarta, sehingga bikin geger.

Anisa (26) dikejutkan oleh suara berisik di atap rumahnya saat hujan deras mengguyur kawasan Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur pada Selasa (28/3) sore.

Awalnya hanya suara gemericik air di talang rumah. Tak lama kemudian cahaya halilintar memecah langit dan suaranya mengaum ke dekat permukiman.

Baca: Seperti Ini Hujan Es yang Melanda Jakarta, Simak Videonya



Suasana makin ngeri ketika Anisa mendengar atap rumahnya seperti dijatuhi benda berpartikel keras.
Ia dan keluarganya mencoba menengok melalui jendela. Mereka terperanga ketika melihat benda seperti es batu berukuran hingga sebesar biji kelereng berjatuhan.

"Suami saya berteriak ada hujan es, ada hujan es. Awalnya saya tak percaya sebelum menyaksikannya sendiri," kata Anisa melaporkan kepada Warta Kota dari kawasan tempat tinggalnya di Jalan Penggilingan Baru 1 Dalam, RT 11/04, Kelurahan Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Baca: Ternyata Ini Tanda-tandanya Sebelum Terjadi Hujan Es

Hujan masih deras mengguyur selama beberapa jam sementara kilatan-kilatan cahaya bercampur gemuruh menimbulkan kekhawatiran.

"Cuaca hari ini sangat mengerikan," Nisa menambahkan.

Baskara (28), suami Nisa, bilang warga setempat heboh akibat peristiwa langka tersebut.
Ia mendengar para tetangganya yang berteriak-teriak "ada hujan es" namun hanya sedikit warga yang berani keluar rumah untuk menyaksikan maupun mengabadikan peristiwa itu.

"Sebagian besar warga takut keluar rumah karena petir yang turun dekat pemukiman," kata Panji.

Hujan es juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah di Jakarta. Di Duren Sawit, Jakarta Timur, dilaporkan terjadi hujan es bercampur hujan badai.
Di Pejaten dan Jatipadang Jakarta Selatan, warga juga melaporkan telah terjadi hujan es.

Sementara itu, BMKG menjelaskan hujan es disertai kilat, petir dan angin kencang memang lebih sering terjadi pada masa transisi atau pancaroba musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya.

Indikasinya, satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah.
Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60%).

Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis- lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu- abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus).

Kemudian, pepohonan di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat.
Indikasi selanjutnya yakni terasa ada sentuhan udara dingin disekitar tempat kita berdiri.

Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba- tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita.

Jika satu hingga tiga hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

Sifat-sifat putting beliung

BMKG merilis sifat-sifat putting beliung maupun angin kencang berdurasi singkat. Pertama, sangat lokal. Dalam hal ini luasannya berkisar 5 – 10 km.

Kedua, waktunya singkat sekitar kurang dari 10 menit.
Kemudian, lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba), lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari.
Sifat selanjutnya yakni bergerak secara garis lurus, tdak bisa diprediksi secara spesifik, hanya bisa diprediksi 0.5 – 1 jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda- tandanya dengan tingkat keakuratan  lebih kecil dari 50 persen.
Angin tersebut hanya berasal dari awan Cumulonimbus (bukan dari pergerakan angin monsoon maupun pergerakan angin pada umumnya), tetapi tidak semua awan Cb menimbulkan puting beliung.
Sifat terakhir yakni kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help