WartaKota/

Petani Kendeng yang Ikut Aksi Mengecor Kaki di Depan Istana Meninggal Dunia

Seorang petani Kendeng yang menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Merdeka, Jakarta, meninggal dunia karena serangan jantung.

Petani Kendeng yang Ikut Aksi Mengecor Kaki di Depan Istana Meninggal Dunia
TRIBUNNEWS/NURMULIA REKSO PURNOMO
Sejumlah petani dari sekitaran kawasan Gunung Kendeng, Jawa Tengah, menggelar aksi di depan Istana Merdeka, dengan cara menyemen kaki mereka. Aksi yang dimulai pada Senin (13/3/2017) itu, rencananya digelar sampai tuntutan mereka terpenuhi, yakni pencabutan izin pendirian pabrik semen di Gunung Kendeng. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Seorang petani Kendeng yang menggelar aksi demonstrasi di depan Istana Merdeka, Jakarta, meninggal dunia karena serangan jantung.

Muhammad Isnur, pengacara publik dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang juga anggota koalisi untuk Kendeng Lestari mengatakan, petani tersebut bernama Patmi (48).

Sejak Senin (13/3/2017), warga perdesaan di kawasan bentang alam karst Kendeng memulai aksi kolektif untuk memprotes pemerintah pusat dan pemerintah daerah, menolak rencana pendirian dan pengoperasian pabrik PT Semen Indonesia di Rembang.

Patmi datang menyusul bersama kurang lebih 55 warga dari kabupaten Pati dan Rembang, untuk ikut serta melakukan aksi pengecoran kaki dengan semen.

Baca: Dukung Perjuangan Petani Kendeng, Wasekjen PKB: Mana Lebih Penting, Air Atau Semen?

"Bu Patmi adalah salah satu dari yang mengecor kaki dengan kesadaran tanggung jawab penuh. Beliau datang sekeluarga, dengan kakak dan adiknya, dengan seizin suaminya," ujar Isnur saat dihubungi Tribunnews, Kamis (21/3/2017).

Patmi ikut protes sampai Senin (20/3/2017). Saat itu, perwakilan warga diundang Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki, untuk berdialog di dalam Kantor KSP.

Baca: Petani Kendeng Tak Percaya Ganjar Pranowo Lagi

Pada pokoknya, perwakilan menyatakan menolak skema penyelesaian konflik yang hendak digantungkan pada penerbitan hasil laporan KLHS. Pada malam harinya, diputuskan untuk meneruskan aksi tetapi dengan mengubah cara.

Sebagian besar warga akan pulang ke kampung halaman, sementara aksi akan terus dilakukan oleh sembilan orang. Almarum Patmi adalah salah satu yang akan pulang, sehingga cor kakinya dibuka, untuk persiapan pulang di pagi hari.

Halaman
12
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help