Home »

News

» Jakarta

Sidang Ahok

Hasil Analisis Ahli Linguistik, Ucapan Ahok di Kepulauan Seribu Bermakna Jangan Percaya Gosip

Guru Besar Linguistik Universitas Indonesia Rahayu Suriati menganalisis ucapan Basuki Tjahaha Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu pada September 2016.

Hasil Analisis Ahli Linguistik, Ucapan Ahok di Kepulauan Seribu Bermakna Jangan Percaya Gosip
Warta Kota/Gopis Simatupang
Ahok dan Prof Edward (berkemeja biru) memberi keterangan kepada media seusai sidang di Gedung Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (14/3/2017). 

WARTA KOTA, RAGUNAN - Guru Besar Linguistik Universitas Indonesia Rahayu Suriati menganalisis ucapan Basuki Tjahaha Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu pada September 2016.

Rahayu Suriati membagi kalimat tersebut ke dalam enam klausa. Klausa pertama adalah 'jangan percaya sama orang', klausa kedua 'bisa saja kan dalam hati kecil bapak ibu tidak pilih saya'. 

Baca: Harus Selesai Sebelum Bulan Puasa, Sidang Ahok Bakal Digelar Dua Kali Seminggu

Kemudian klausa ketiga adalah 'dibohongi pake surat Al Maidah 51, macam-macem itu', klausa keempat adalah 'Itu hak bapak ibu', klausa kelima adalah 'jadi bapak ibu enggak bisa milih nih', dan klausa keenam adalah 'karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa'. 

Baca: Tiga Ahli Siap Berikan Keterangan yang Meringankan Ahok

"Jadi induk kalimatnya adalah 'jangan percaya sama orang'. Itu induk kalimatnya," kata Rahayu Suriati saat memberikan keterangan selaku ahli bahasa, di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Rahayu mengatakan, kalimat tersebut menjadi induk kalimat karena bisa berdiri sendiri. Sementara, kalimat selanjutnya menjelaskan agar tidak percaya kepada orang.

Baca: Ahok Bertekad Tak Ambil Pusing Terkait Gerakan Tamasya Al Maidah

Sedangkan penggalan kalimat 'dibohongi pakai surat Almaidah 51 macem-macem itu' tidak bisa berdiri sendiri, karena harus ada subyek yang dikenai tindakan.

"Kalau dia berdiri sendiri harus ada subyek yang dikenai tindakan. (Kalimat) 'Bapak ibu bisa hilang' karena dia ada dalam satu kalimat yang panjang. Jadi kalau dia berdiri sendiri, bunyinya 'bapak ibu dibohongi pakai Almaidah 51 macam macam itu'," jelasnya.

Dari penggalan-penggalan tersebut, Rahayu menegaskan, pelaku dalam kalimat yang dilontarkan Ahok atau pelaku yang berbohong adalah orang.

Namun, orang tersebut telah mengalami perubahan makna. Artinya bukan lagi menunjuk seseorang, namun telah berubah menjadi sebuah idiom.

"'Jangan percaya sama orang' itu satu ungkapan beku yang arti orang sudah berubah. Dia tidak menunjuk pada orang seorang, tapi jadi sebuah idiom yang artinya jangan percaya desa-desus, gosip," ulasnya.

"Dalam percakapan sering kita bilang jangan sering percaya sama orang, Ini hampir sama menjadi idiom, tidak sama dengan makna di kamus," imbuhnya. (*)

Penulis: Eri Komar Sinaga
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help