Home »

News

» Jakarta

Sidang Ahok

Dua Ribu Polisi Disebar untuk Antisipasi Penyusup di Sidang Ahok

Purwanta mengatakan, sistem pengamanan tetap menggunakan pola empat ring. Lebih dari 2.000 petugas tetap disebar untuk menjaga ketertiban.

Dua Ribu Polisi Disebar untuk Antisipasi Penyusup di Sidang Ahok
WARTA KOTA/JOKO SUPRIYANTO
Suasana di luar sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama, di depan Auditorium Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (13/2/2017). 

WARTA KOTA, PASAR MINGGU - Aparat Polres Metro Jakarta Selatan meningkatkan pengamanan sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), di Auditorium Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Selasa (21/3/2017).

Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polres Metro Jakarta Selatan Komisaris Purwanta mengatakan, polisi melakukan evaluasi pengamanan sidang Basuki dari pengalaman sidang-sidang sebelumnya, kemudian meningkatkannya agar sidang dapat berjalan lebih tertib dan aman.

Beberapa kali polisi direpotkan dengan hadirnya penyusup, khususnya di tengah-tengah pendukung Ahok maupun GNPF-MUI, yang tengah berorasi di depan Gedung Kementerian Pertanian, Jalan RM Harsono.

"Pengamanan lebih ditingkatkan, setelah melakukan evaluasi dari pengalaman sidang-sidang sebelumnya. Diharapkan sidang hari ini berjalan lebih tertib dan tetap aman," ujar Purwanta, Selasa (21/3/2017).

Purwanta mengatakan, sistem pengamanan tetap menggunakan pola empat ring. Lebih dari 2.000 petugas tetap disebar untuk menjaga ketertiban. Beberapa di antaranya difokuskan untuk mengintai kemungkinan masuknya penyusup yang dapat mengganggu ketertiban.

"Ring pertama di dalam ruangan sidang, ring dua di sekitar ruang sidang, ring tiga halaman Gedung Kementerian Pertanian, dan ring empat di luar, jalanan," bilang Purwanta.

Dia menyampaikan, ada tiga saksi ahli yang akan dihadirkan dalam sidang ke-15 kasus dugaan penistaan agama hari ini. Mereka antara lain ahli agama yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta Ahmad Ishomuddin.

Kemudian, ahli bahasa yang merupakan guru besar lingusitik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Rahayu Surtiati, dan ahli hukum pidana Djisman Samosir dari Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Jawa Barat. (*)

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help