Travel

Saat Pusaka Ki Ageng Pandanaran Dijamas dengan Mata Air dari Tujuh Penjuru

Jamasan pusaka merupakan peristiwa budaya yang kerap ditemui dalam seremonial peringatan hari jadi suatu daerah, khususnya yang ada di Pulau Jawa.

Saat Pusaka Ki Ageng Pandanaran Dijamas dengan Mata Air dari Tujuh Penjuru
Kompas.com/Syahrul Munir
Sejumlah pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama, yakni Sunan Pandanaran II dijamas di pendopo Bupati Semarang, di Ungaran, Selasa (11/10/2016) siang oleh para pamong budaya setempat. 

WARTA KOTA, UNGARAN - Jamasan pusaka merupakan peristiwa budaya yang kerap ditemui dalam seremonial peringatan hari jadi suatu daerah, khususnya yang ada di Pulau Jawa.

Selain sebagai upaya pelestarian budaya, jamasan pusaka juga mengandung filosofi dan kearifan lokal masyarakat.

Pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-496 Kabupaten Semarang, Rabu (15/3/2017), jamasan pusaka peninggalan Bupati Semarang pertama Ki Ageng Pandanaran digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Jalan Ahmad Yani Ungaran dengan melibatkan elemen masyarakat dari Paguyuban Tosan Aji Gedongsongo.

Ada beberapa pusaka peninggalan Ki Ageng Pandanaran yang berhasil diinventarisir dan disimpan dengan baik di rumah dinas Bupati Semarang ini.

Di antaranya adalah dua tombak trisula, satu tombak lurus dan sejumlah keris yang konon dibuat pada zaman Majapahit.

Keris pun mempunyai nama, ada keris Nogo Pendowo dan keris Korowelang. Selain itu peninggalan Ki Ageng Pandanaran lainnya adalah pelana kuda.

Namun karena satu dan lain hal, pelana kuda ini tidak ikut dijamas. "Tapi dalam kirab budaya nanti diperlihatkan," kata juru kunci pusaka Pemkab Semarang, Edi Sukarno. 

Sesajian berupa nasi tumpeng, ingkung, kelapa hijau, air kembang setaman, pisang, jadah pasar, kembar mayang dan dua cangkir berisi minuman teh dan kopi adalah bagian tak terpisahkan dari jamasan ini.

Menjamas pusaka secara lahiriah adalah proses merawat dan menjaga pusaka terbebas dari karat hingga terhindar dari kerusakan.

Cara menjamas pusaka ini dimulai dari proses membersihkan karat (mutih), mewarangi, hingga meminyaki dan memberi wewangian pada pusaka.

Halaman
12
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help