Mulai 1 April Pemerintah Terapkan Batas Tarif Taksi Online

Mulai 1 April Kemenhub akan menerapkan Permen No 32/2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam trayek.

Mulai 1 April Pemerintah Terapkan Batas Tarif Taksi Online
Warta Kota/Dwi Rizki
ILUSTRASI - Sejumlah anggota driver online terlihat sibuk memajang poster bertuliskan penolakan atas Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 32 Tahun 2016 tentang Pengaturan Angkutan Umum Berbasis Aplikasi. 

WARTA KOTA, GAMBIR - Mulai 1 April 2017 Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menerapkan Peraturan Menteri (Permen) No 32 tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

Dalam Permen tersebut, disebutkan bahwa diatur masalah tarif bagi angkutan taksi online. Yaitu dengan menetapkan tarif batas atas dan batas bawah.

Sebelumnya, Kemenhub telah sosialisasikan Permen 32 itu sendiri selama enam bulan dan dimana habis masa sosialisasi pada akhir Maret ini.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Pudji Hartanto, mengatakan bahwa penetapan tarif tersebut agar tidak kesenjangan tarif yang terlalu jauh dengan taksi resmi.

“Prinsip dasarnya memang begitu. Kalau perbedaannya jauh tetep percuma. Bicara ekonomisnya di mana? Itu kan menjadi debatable. Asal ada promo, subsidi segala macem, terus aplikasi itu merugi sekian miliar dolar,” kata Pudji, Rabu (15/3/2017).

Tarif yang diberlakukan nantinya, lanjut Pudji, bisa berbeda-beda dengan tiap daerah. Seperti jika topografi di sebuah kota turun naik, akan berbeda dengan yang datar saja.

Namun, dengan adanya pembatasan tarif tersebut, juga akan dibatasi pengoperasiannya.

“Pasti kan ini kawasan perkotaan. Nanti Gubernur tentukan operasi. Contoh Bandung, Bandung Raya, jangan Bandung sampai Garut. Kalau aplikasi, lebih bagus, tapi kalau ada stiker, bisa ditindak di jalan. Sosialisasi itu baik terhadap para pelaku maupun masyarakat. Inilah Dishub diundang supaya diinformasikan,” katanya.

Penyusunan tarif atas dan bawah itu nantinya akan melibatkan stakeholder sebagai perbandingan. Agar bisa mendapatkan titik temunya.

“Sekarang taksi resmi menjerit karena perbedaannya tinggi. Maunya pengemudi taksi online nggak begitu, pelaku taksi online sekarang tidak hanya dengan reguler, tapi dengan internal, saling tekan menekan. Mungkin tidak muncul leasing 3-4 bulan balikin lagi. Baik taksi online maupun reguler itu sama-sama ingin diatur, udah sama-sama kedua belah pihak,” katanya.

Halaman
123
Penulis: Mohamad Yusuf
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help