Bulu Tangkis Indonesia masih Krisis Tunggal Putra

Sudah lebih dari 10 tahun, Indonesia belum memiliki lagi sosok tunggal putra yang layak merepresentasikan Indonesia.

Bulu Tangkis Indonesia masih Krisis Tunggal Putra
Warta Kota/Glery Lazuardi
Taufik Hidayat 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Banu Adikara

WARTA KOTA, TANGERANG - Gelar juara All England Open 2017 yang diraih ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo /Marcus Fernaldi Gideon dinilai layak menjadi contoh untuk para pebulu tangkis di sektor lain, termasuk tunggal putra.

Sudah lebih dari 10 tahun, Indonesia belum memiliki lagi sosok tunggal putra yang layak merepresentasikan Indonesia.

Hal ini dibenarkan oleh mantan pebulu tangkis Indonesia, Taufik Hidayat.

Pria yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Pembinaan dan Prestasi PBSI itu mengatakan, performa para pemain di tunggal putra hingga detik ini belum ada yang meyakinkan.

Dari pengamatan terakhir di All England Open 2017 kemarin, Taufik menilai, perkembangan tunggal putra Indonesia masih cukup jauh di belakang beberapa negara lain.

"Memang masih belum memuaskan. Pemain-pemain seniornya sudah mulai turun, sementara yang muda-muda masih butuh dimatangkan lagi," kata Taufik, Rabu (15/3).

Peraih medali emas di Olimpiade Athena 2014 itu mengatakan, saat ini performa tunggal putra senior seperti Sony Dwi Kuncoro sudah mulai tidak stabil.

Sementara, peluru-peluru baru seperti Jonathan Christie, dan Anthony Sinisuka Ginting masih perlu lebih banyak terjun di kompetisi-kompetisi tingkat bawah untik membangun fondasi mereka.

Taufik menilai, kurang berkembangnya para pebulu tangkis muda disebabkan karena fondasi mereka belum cukup kuat.

Halaman
123
Penulis: Banu Adikara
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help