WartaKota/

Mereka Berkembang Lewat Sejuta Rumah dan KPR BTN

Ratusan rumah dibangun di pinggir Kota Jakarta agar masyarakat punya peluang untuk mengembangkan usaha. Apalagi dengan KPR bersubsidi

Mereka Berkembang Lewat Sejuta Rumah dan KPR BTN
Warta Kota/Theo Yonathan Simon Laturiuw
Yulianti (33)-di pintu rumah, kini memiliki usaha warung usai pindah ke rumah subsidi di Samuderra Residence, Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (7/3/2017). Keberadaan rumah subsidi amat membantu berkembangnya sebuah kawasan 

WARTA KOTA -- Yulianti (33) masih sibuk melayani pembeli di warung kecilnya, Selasa (7/3/2017) siang.

"Itu dua ribu rupiah saja bu," kata Yulianti ke pembelinya yang mengambil sabun colek.

Warungnya ditempatkan di teras rumah. Hanya ada sebuah rak kaca untuk memajang dagangan.

Di dalamnya ditaruh sabun, alat tulis, sampo, dan lainnya. Jajanan anak kecil digantung di atas rak.

Perempuan berjilbab itu tak bisa menolak pembeli. Ada saja yang datang. Jaraknya berdekatan. Membeli sabun cuci, gas, air mineral galon, sampai cuka dan lainnya.

Dia membuat teman-temannya menunggu. Segerombolan ibu dengan anak kecil. Seperti hari sebelumnya, mereka janjian mengantar buah hatinya ke tempat belajar mengaji.

"Dikit lagi ya, masih ada yang beli nih," kata Yulianti ke rekannya yang mulai tak sabar.

Rekannya sudah bolak-balik mengingatkannya agar bergegas dengan muka kesal. Jam belajar mengaji nyaris dimulai.

Yulianti cuma memasang senyum tipis. Minta dimaklumi.

Begitu pembeli terakhir pergi, Yulianti buru-buru menutup warungnya. Masuk ke rumah sebentar, memasangkan jilbab ke anak perempuannya, dan mengunci pintu rumah.

Seketika ia pergi bersama ibu-ibu itu. Bergerombol naik motor dan membonceng anaknya masing-masing.

Enam bulan lalu Yulianti memilih mengubah teras depan rumah mungilnya jadi warung di perumahan subsidi Samudera Residence di Kelurahan Sasakpanjang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Salah satu perumahan subsidi yang dibangun pengembang Elang Group.

Letaknya agak jauh dari Stasiun Bojonggede maupun Citayam. Sekitar 15 - 20 menit melewati jalan berkelok, menyisir hutan kecil, sawah, dan jalan berlapis beton.

Enam bulan lalu dia melihat rumah subsidi di sana makin ramai terisi di tiap blok. Antara 20 kepala keluarga (KK) sampai 30 (KK) di tiap blok.

Tapi tak ada warung di sana. Akses ke luar perumahan cukup jauh. Membuat malas keluar saat panas terik atau malam hari.

"Ya sudah saya mulai saja buka warung. Minta ke suami modal awalnya. Sekarang sudah balik modal dan uang berputar," kata Yulianti ketika ditemui Wartakotalive.com di warungnya, Selasa (7/3/2017) siang.

Setiap hari dia memperoleh omzet Rp 500.000. Untung bersihnya antara Rp 150.000 - Rp 200.000 per hari.

Cukup untuk membantu membayar cicilan rumah dan menabung.

Yulianti mengaku sempat bingung usai keluar dari rumah mertuanya di Klender, Jakarta Timur dan pindah ke rumah subsidi di bulan Juni 2015.

Dia mesti berhenti kerja sebagai pramuniaga di gerai baju. Dua anaknya tak ada yang menjaga. Tak mungkin lagi mengandalkan mertua.

Suaminya yang kemudian tetap bekerja. Memenuhi segalanya sendirian dari gaji sebagai akunting di sebuah bank. Pulang pergi Tajurhalang - Jakarta memakai kereta, setiap hari.

"Tapi ternyata di perumahan baru atau lokasi yang baru dibuka begini justru banyak peluang usaha," kata Yulianti lalu tersenyum.

Dia kini merasa beruntung menepi jauh dari kawasan Klender, Jakarta Timur ke kawasan Tajurhalang di Kabupaten Bogor.

Sebelum pindah, Yulianti tinggal 5 tahun bersama mertuanya di Klender.

Semuanya berawal dari kegiatan rutin BTN Property Expo 2014 di JCC Senayan, Jakarta Pusat di bulan Agustus 2014.

Yulianti dan suaminya, Wardoyo, mencari rumah subsidi disana.

Pasutri itu jatuh cinta dengan down payment (DP) murah. Keduanya patungan membayarkan DP Rp 4 juta di pameran. Saat itu perumahan sedang proses pembuatan pondasi.

Selanjutnya usai rumah selesai dibangun, akad kredit dilakukan di Bank BTN. Cicilannya murah. Rp 900.000 tiap bulan selama 15 tahun.

"Akhirnya Juni 2015 kami baru tempati rumah ini. Sebenarnya ada beberapa pilihan bank untuk kredit. Tapi saya pilih bank BTN karena paling ringan dan cepat prosesnya. Saya tak mau yang lain," kata Yulianti.

Keluar Jakarta

Di blok Leopard perumahan Samudera Residence, letaknya berseberangan dengan blok Rainbow tempat Yulianti tinggal, pasangan Sumarno (55) dan Suarsih (50) merasa beruntung selama hampir 1 tahun ini.

Usai Lebaran tahun 2016, Sumarno tak perlu pusing lagi membayar uang kontrakannya sebesar Rp 1,5 juta di rumah petak di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Tadinya ia membayar kontrakan itu patungan dengan 2 anaknya yang sudah bekerja. Merantau sejak tahun 1991 di Jakarta dan bekerja sebagai kuli bangunan, membuat Sumarno sulit memiliki rumah. 

Keluarga Sumarno di rumah subsidi yang sudah nyaris 1 tahun ditempati. Sumarno dan keluarganya kini bekerja di Bogor, tak lagi di Jakarta. Kehidupannya jadi lebih efektif, efisien, dan murah. Sehingga bisa menabung
Keluarga Sumarno di rumah subsidi yang sudah nyaris 1 tahun ditempati. Sumarno dan keluarganya kini bekerja di Bogor, tak lagi di Jakarta. Kehidupannya jadi lebih efektif, efisien, dan murah. Sehingga bisa menabung (Warta Kota/Theo Yonathan Simon Laturiuw)

"Sampai punya tiga anak tak kebeli rumah juga. Ngontrak saja terus," kata Sumarno.

Anak pertamanya, Ernawati (25) menyelesaikan kesulitan ayah dan ibunya di tahun 2016.

Dia bersama adiknya, Asih Wisdatuti (23) mencari rumah subsidi.

Didapatlah perumahan subsidi di Samudera Residence. Uang mukanya Rp 12 juta. Cicilannya Rp 912.000 per bulan selama 15 tahun.

Awalnya sempat ditawari beberapa bank pemberi kredit. Tapi Ernawati memilih bank BTN.

"Dari saya bicara sama teman dan rekan yang sudah membeli rumah subsidi, semuanya menyarankan agar di bank BTN. Makanya saya pilih BTN," kata Ernawati ketika ditemui Wartakotalive.com di rumahnya, Selasa (7/3/2017) siang.

Kini keluarga itu keluar dari Jakarta. Sumarno tak lagi menjadi kuli di Jakarta. Baru-baru ini ia ikut bekerja dengan rekan sekampungnya yang tinggal di Bogor. Mengerjakan proyek-proyek pembangunan kecil di Bogor.

Sumarno kini tengah bekerja membangun rumah tinggal di Kota Bogor bersama rekannya.

Sedangkan anak ketiga mereka, Fitri Novianti (16), pindah ke sebuah sekolah di dekat rumah. Jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Sedangkan Erna pindah kerja dari Jakarta. Dia sudah 4 bulan belakangan menjadi kasir di sebuah supermarket di kawasan Parung, Kabupaten Bogor.

Kini tinggal Asih Wisdatuti, anak kedua Sumarno yang tiap hari pulang-pergi dari Tajurhalang-Jakarta. Setiap pagi Sumarno mengantar Asih ke Stasiun Bojonggede dengan motor yang masih dicicil.

Halaman
Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help