Pabrik Ditegur karena Perlakukan Buruh Secara Tak Manusiawi

Pabrik yang memperlakukan buruh secara tak manusiawi itu ditegur Disnaker Kota Depok.

Pabrik Ditegur karena Perlakukan Buruh Secara Tak Manusiawi
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Pabrik yang dilaporkan tidak memperlakukan buruh secara manusiawi. 

WARTA KOTA, DEPOK -- Pabrik garmen PT Kaisar Laksmi Mas Garment di Jalan Tole Iskandar, Kelurahan Sukamaju, Cilodong, yang disebut-sebut menerapkan jam kerja tak manusiawi bahkan bisa sampai 22 jam di hari tertentu akhirnya mendapat peringatan dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Depok.

Kepala Disnaker Depok, Diah Sadiah menuturkan, pihaknya sudah mendatangi pabrik garmen itu, Senin (22/2/2017), untuk melakukan pemeriksaan, menyusul pemberitaan di media.

Pabrik yang dilaporkan memperlakukan buruhnya secara tidak manusiawi.
Pabrik yang dilaporkan memperlakukan buruhnya secara tidak manusiawi. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

"Mereka bersedia menandatangi surat pernyataan untuk mentaati aturan jam kerja dan jam lembur bagi buruh," kata Diah.

Menurutnya, dari pemeriksaan pihaknya ada itikad baik dari pabrik garmen itu untuk tidak lagi menerapkan jam kerja panjang, serta memberi upah lembur.

Pihaknya, kata Diah melalui kepala seksi perlindungan tenaga kerja akan memberikan pembinaan ke pabrik garmen tersebut.

"Kami juga berkoordinasi dengan balai pelayanan pengawasan Kemnaker dan menugaskan pengawas tenaga kerja di sana," katanya.

Yang pasti, kata Diah, pihak manajemen perusahaan, telah bersedia menandatangi surat pernyataan untuk mentaati aturan jam kerja dan jam lembur bagi buruh atau karyawannya serta memberikan upah lembur.

"Ke depan kita akan pantau terus itikad baik dari perusahaan. Saya harap surat pernyataan yang dibuat benar-benar ditaati,” ujar Diah

Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna mengaku sudah mendengar informasi adanya pabrik atau perusahaan garmen di Depok yang menerapkan jam kerja tak manusiawi tanpa upah lembur ke buruh. Pabrik garmen itu adalah PT Kaisar Laksmi Mas Garment di Jalan Tole Iskandar, Sukamaju, Cilodong, Depok.

Menurut Pradi pihaknya akan segera melakukan investigasi langsung mengenai masalah ini dan tak menutup kemungkinan memberi peringatan atau pengawasan langsung ke pihak manajemen pabrik.

"Kami akan investigasi langsung nanti. Kalau memang benar terapkan jam kerja tak manusiawi, akan kita peringatkan, atau beri sanksi," katanya saat dikonfirmasi Warta Kota. 

Ia mengatakan biar bagaimanapun pabrik garmen tersebut menyerap cukup banyak tenaga kerja yang hampir seluruhnya adalah warga Depok. "Jadi harus ada win-win solution nantinya," katanya.

Seperti diketahui, pabrik garmen PT Kaisar Laksmi Mas Garment di Jalan Tole Iskandar, Sukamaju, Cilodong, Depok, dituding para buruh menerapkan jam kerja tak manusiawi di hari-hari tertentu terutama setiap Jumat yang jam kerjanya selama 22 jam, mulai pukul 07.00 sampai pukul 05.30 esok harinya, tanpa uang lembur.

Paling cepat, buruh di pabrik garmen ini bekerja mulai pukul 07.00 sampai pukul 20.00. Yang cukup sering, para buruh bekerja dari pukul 07.00 sampai pukul 24.00 atau sekitar 17 jam.

Meski jam bekerja panjang, para buruh tidak mendapat upah lembur atau upah tambahan.

Mereka diberi upah rata-rata di bawah UMP Depok, yakni hanya sekitar Rp 2.750.000 per bulan.

Karena hal itu beberapa suami dari buruh perempuan yang bekerja di sana berencana melaporkan hal ini ke Disnaker Depok atau Kementerian Tenaga Kerja. 

RS mengatakan, penerapan jam kerja tak manusiawi itu karena pihak perusahaan mengejar target produksi untuk keperluan ekspor ke luar negeri.

"Dari keterangan istri saya, mereka diminta kerja tak manusiawi itu, karena kejar target produksi untuk diekspor ke luar negeri," kata RS.

Menurutnya, pabrik garmen tak manusiawi tempat istrinya bekerja memproduksi pakaian dan busana pria serta wanita, jaket hingga polybag.‎

"Biasanya, hari Jumat, perusahaan pasti minta semua buruh kerja dari jam 07.00 sampai jam 05.30 esok harinya, karena Sabtunya memang hari libur," kata RS.

Saat jam kerja yang sekitar 22 jam sehari itu diterapkan, kata RS, waktu istirahat hanya setengah jam, selama dua kali. "Istirahatnya jam 12 siang selama setengah jam, dan jam 12 malam atau pukul 24.00, selama setengah jam juga," kata RS.

Ia mengatakan terakhir kali istrinya bekerja dari pagi sampai pagi, adalah pada Jumat (17/2/2017) lalu. "Istri saya kerja dari jam 07.00 dan pulang Sabtunya jam 05.30. Ini diterapkan ke semua buruh di sana," katanya.

Menurutnya pada Rabu (15/2/2017), ratusan buruh di sana juga diminta bekerja dengan jam kerja itu. "Tapi waktu itu, istri saya kabur dari pabrik jam 12.00 malam dan pulang karena merasa kelelahan. Besoknya sudah dapat peringatan lisan," kata RS.

RS menjelaskan, istrinya sudah bekerja selama sekitar 3 tahun atau sejak tahun 2014 lalu di sana.

"Istri saya sempat diberhentikan bekerja pertengahan 2016 karena sering tidak masuk karena sakit. Sebab saat itu istri sedang hamil anak kedua dan sering sakit, karena kerjanya tidak manusiawi. Saat usia kandungan istri 6 bulan, istri saya diberhentikan," kata RS, yang tinggal tak jauh dari lokasi pabrik di Sukamaju, Cilodong, Depok.

Menurutnya, setelah istrinya melahirkan anak pertama, Oktober 2016, sang istri bekerja kembali di pabrik garmen itu.

"Sistemnya kontrak 6 bulan dan perpanjang setelah masa kontrak habis. Sebelumnya, sistem kontraknya setahun," kata ayah dua anak itu. ‎Ia mengatakan' hari kerja istrinya di pabrik garmen itu adalah Senin sampai Jumat. 

Sementara, jam kerjanya, kata RS, dimulai jam 7 pagi dan pulang paling cepat atau selesai bekerja jam 20.00 malam.

Namun, katanya, sangat sering istrinya dan 300-an buruh pabrik di sana, baru boleh pulang pukul 24.00 atau tengah malam, dan bahkan pukul 05.30 esok harinya.

"Selama bekerja di pabrik itu, paling cepat istri saya pulang atau selesai bekerja jam 8 malam atau jam 20.00. Yang paling sering, dia bekerja sampai jam 12 malam, dan bahkan sampai jam setengah enam subuh atau 5.30 pagi, semua buruh baru boleh pulang," kata RS.

Biasanya kata RS, jam kerja dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 05.30 esok harinya, diterapkan perusahaan garmen tersebut di hari Jumat. ‎Sebab, Sabtunya adalah hari libur para buruh. Sehingga mereka baru boleh pulang, di pagi hari.

"Beberapa kali juga, hari Minggu, istri saya dan semua buruh diminta masuk. Kalau enggak, ya kena marah dan bisa diberhentikan," kata RS.

Menurutnya, meski mengikuti aturan tak manusiawi pihak pabrik garmen, upah atau gaji istrinya selalu tetap yakni sebesar Rp 2.750.000 per bulan.
Besaran ini jauh dari Upah Minimum Regional (UMP) Kota Depok 2017 yang ditetapkan sebesar Rp 3,2 Juta.

"Berarti, kerja dari pagi ketemu pagi atau sampai tengah malam itu, tidak ada uang lembur sama sekali. Ini benar-benar tak manusiawi," kata RS.

Karena hal inilah, kata RS, pihaknya akan melaporkan pabrik garmen itu ke pihak terkait mulai dari Disnaker Depok atau Kementerian Tenaga Kerja.

"Ada kenalan yang akan mendampingi kami melapor sesuai prosedur," katanyta.

Menurut RS, keputusan untuk melaporkan pabrik garmen yang menerapkan jam kerja dan upah tak manusiawi itu, karena mengingat ada sekitar ratusan buruh perempuan yang tertekan bekerja di sana.

"Saya sudah minta, istri saya agar berhenti bekerja saja dari sana. Tapi, kebutuhan ekonomi kami memang cukup membutuhkan pendapatan dari istri. Jadi untuk berhenti, istri saya masih pikir-pikir lagi," kata RS, yang bekerja di salah satu tempat makan di Senayan, Jakarta.

Apalagi, kata RS, dua anaknya masih kecil-kecil yakni berusia 5 tahun dan 1 tahun.

Selain itu anaknya yang paling besar akan masuk sekolah tahun ini dan membutuhkan biaya.

"Akhirnya, kami berencana akan melaporkan perusahaan garmen itu ke pihak terkait, dengan harapan penerapan jam kerja di sana lebih manusiawi dan ada upah untuk buruh yang bekerja melebihi jam kerja biasa atau uang lembur," kata RS.‎

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved