Chris John dan Dunia Tinju Indonesia yang Mati Suri

Rindu sekali lihat jalanan sudah pada sepi kalau mau ada pertandingan tinju Indonesia, siapa pun itu.

Chris John dan Dunia Tinju Indonesia yang Mati Suri
Warta Kota/Umar Widodo
Chris John.

WARTA KOTA, CENGKARENG -- Ada kerinduan cukup unik yang dipendam legenda tinju WBA Indonesia, Yohanes Christian John (37) atau akrab disapa Chris John, dalam beberapa tahun terakhir ini.

Hampir empat tahun, setelah memutuskan pensiun dari olahraga yang membesarkan namanya di kancah internasional, petinju berjuluk The Dragon mengaku kangen dengan sebuah situasi khusus yang kerap terjadi saat olahraga tinju masih sangat digemari.

Kerinduan seperti apa yang dipendam seorang Chris John?

"Rindu sekali lihat jalanan sudah pada sepi kalau mau ada pertandingan tinju Indonesia, siapa pun itu yang main. Memang hal sederhana, tapi menyenangkan sekali saat mengetahui orang rela pulang cepat, atau tidak keluar rumah demi nonton tinju," kata Chris saat ditemui di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat oleh Warta Kota.

Tinju memang pernah sangat booming di Tanah Air. Di era 80an hingga pertengahan millenium kedua silam, pertandingan tinju lokal kerap kali menjadi sorotan dan ditayangkan di sejumlah stasiun televisi.

Hype tinju di Indonesia pun bukan tanpa alasan, mengingat sudah ada lima petinju Indonesia yang menorehkan namanya sebagai juara dunia di kelas masing-masing.

Chris John sendiri merupakan regenerasi terakhir tinju Indonesia yang membawa tradisi juara dunia setelah zaman Ellyas Pical, Nico Thomas, Ajib Albarado dan Suwito Lagola.

Kini, tradisi itu tengah terhenti. Tinju Indonesia tengah memasuki masa mati suri setelah Chris memutuskan gantung sarung tinju pada tahun 2013 lalu.

Seolah kehilangan sosok panutan juara, penggemar tinju maupun para promotor Indonesia seakan hilang ditelan bumi. Tinju tak lagi digemari. Tidak sedikit sasana tinju yang ditutup.

Dampak ini pun secara tidak langsung juga memengaruhi nasib petinju nasional yang harusnya bermain untuk pelatnas jelang SEA Games 2017. Pelatnas tinju untuk sementara ini dibubarkan lantaran belum ada dana yang memadai.

"Tentu jadi kesedihan sendiri bagi saya melihat tren tinju sangat drop belakangan ini. Padahal, dulu, satu stasiun televisi paling tidak menayangkan satu kali pertandingan tinju. Hal ini sebetulnya sangat baik buat pertinjuan kita," kata Chris.

Walau demikian, tidak berarti Indonesia sudah tidak memiliki petinju berkelas. Nama Daud 'Cino' Yordan, dan Tibo Monabesa disebut Chris masih punya asa membangkitkan tinju Indonesia.

"Problemnya tinggal bagaimana mencari promotor tinju, dan tentunya sponsor, supaya pertandingan-pertandingan berkelas bisa berjalan lagi," kata Chris.

Menurut Chris, hanya segelintir promotor tinju yang kini masih rela berjuang untuk membesarkan petinju Indonesia.

"Setelah hype tinju turun, rata-rata memang kurang berani. Memang ini jadi kesulitan nomor satu. Tidak banyak promotor yang mau mengadakan pertandingan karena takut merugi. Mengingat promotor secara tidak langsung punya peran besar dalam pembinaan petinju, saya rasa mental seperti ini bukan pola pembinaan yang bagus," katanya.

Menurut Chris, jika para promotor bisa menjadikan tinju sebagai sebuah showbiz yang mendatangkan uang, rugi bukanlah sebuah opsi.

"Harusnya ya nggak ada cerita promotor rugi kalau bisa melihat tinju bukan hanya sebagai sarana pembinaan atlet, tapi juga sebagai sebuah bisnis," kata ayah Maria Luna Ferisha dan Maria Rosa Christiani itu.

Chris sendiri pun tidak tinggal diam. Pertengahan tahun 2016 lalu, Chris mengadakan sebuah acara reality sport bernama Indonesia Boxing Championship (IBC), yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia.

IBC adalah acara dengan konsep pencarian bakat di dunia tinju.

Tahun ini, Chris berencana kembali mengadakan acara serupa.

"IBC adalah salah satu bentuk langkah saya untuk tetap membuat tinju Indonesia tetap bernafas. Tahun ini pun saya sedang bergerak lagi, dan rencananya akan melibatkan pemerintah. Karena, kalau hanya dari kami sendiri, jujur memang berat sekali," katanya.

Terlibatnya pemerintah pun dinilai Chris bakal membangkitkan moral para pelaku dan pecinta tinju, dan merangsang kembali para promotor yang menghilang.

"Saya yakin kalau kita semua mau bekerja sama dan saling dukung, Indonesia bisa kembali melahirkan petinju kelas dunia. Filipina bisa punya seorang Manny Pacquiao karena mungkin perhatian terhadap tinju di sana sangat besar. Demikian juga Thailand, di mana Thai Boxing mereka sudah punya tempat sendiri. Kita pun bisa menciptakan juara kita sendiri," kata Chris.‎
Penulis: Banu Adikara
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help