Sinema

Demi Film Nasional, Ahok Ingin Jakarta Punya Bioskop Bersubsidi Agar Harga Tiket Murah

Calon Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama menginginkan Jakarta memiliki bioskop bersubsidi dengan harga tiket terjangkau demi mendukung industri film.

Demi Film Nasional, Ahok Ingin Jakarta Punya Bioskop Bersubsidi Agar Harga Tiket Murah
Instagram
Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama bersama istrinya, Veronica Tan (tengah), dan aktris Dian Sastrowardoyo. 

WARTA KOTA, JAKARTA - Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menginginkan Jakarta memiliki bioskop bersubsidi dengan harga tiket masuk terjangkau demi mendukung industri film nasional.

"Bioskop bersubsidi harus ada, contoh peredaran film kita di XXI kan rakyat pengen nonton, tapi kalau harganya Rp25 ribu, enggak mungkin nonton kan?" kata Ahok usai menghadiri bedah buku "A Man Called Ahok" di Jakarta beberapa jam lalu.

Ahok mengatakan warga Jakarta akan lebih antusiastis menonton film di bioskop dengan kemampuan membayar tiket antara Rp 5.000 sampai Rp10.000.

Namun, jika harga tiket bioskop hanya Rp5.000 dengan kapasitas penonton 50 orang tentunya tidak akan cukup untuk membayar biaya perawatan listrik, pendingin udara dan sarana prasarana.

Oleh karena itu, ia memiliki gagasan mendirikan bioskop dengan biaya subsidi dari PD Pasar Jaya sehingga film nasional bisa tayang dengan jangka waktu lama.

"Kalau bioskop cuma 50 penonton, Rp500.000, bisa putar enggak film? Enggak bisa nutup kecuali kita subsidi lewat Pasar Jaya, ada AC segala macam sehingga peredaran film nasional jadi panjang," kata Ahok yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat dalam Pilkada DKI tahun ini tersebut.

Ahok juga mengharapkan Jakarta menjadi pusat perfilman nasional dengan banyaknya studio layaknya di industri film Hollywood sehingga pembuat film di Jakarta akan dipermudah.

Ahok juga berencana menyediakan dana Rp2 miliar untuk mendukung produksi film untuk mewadahi kreativitas komunitas pembuat film pendek atau film indie, bahkan mahasiswa jurusan film.

"Bayangkan kalau kita sediakan Rp2 miliar, bisa 50 film setahun. Lima puluh film mesti diputar, putar di mana yang murah, ya rumah biasa. Kalau pengusaha kan harus hitung tanahnya," ujar mantan Bupati Belitung Timur ini. (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved