Sindikat Pemalsu Dokumen Keimigrasian Berhasil Digulung

Lokasi yang notabene terkenal karena dijadikan tempat untuk mencetak ijazah palsu tersebut banyak dihuni oleh Warga Negara Asing (WNA) asal India.

Sindikat Pemalsu Dokumen Keimigrasian Berhasil Digulung
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Sindikat pemalsuan dokumen yang berhasil digulung petugas beserta sejumlah barang bukti kejahatan. 

WARTA KOTA, KEMAYORAN -- Tato Juliadin Hidayawan, Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Pusat, mengatakan bahwa sejumlah dokumen palsu keimigrasian dicetak di daerah Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

"Peralatan seperti cap, blanko dan dokumen. Mereka cetaknya di Pasar Baru," kata Tato di Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Pusat, Kemayoran, Rabu (18/1/2017).

Lokasi yang notabene terkenal karena dijadikan tempat untuk mencetak ijazah palsu tersebut banyak dihuni oleh Warga Negara Asing (WNA) asal India, yang berdagang bahan-bahan tekstil.

Baca: Tanda Cinta di Keningnya Membuat Bayi Ini Disebut sebagai Bayi Ajaib

Tato menambahkan, WNA yang menjadi pelanggan sindikat pemalsu dokumen yang sudah beroperasi sejak 3-4 tahun lalu, berasal dari India.

"Pelanggan mereka ya orang-orang India juga, yang ingin membuat visa atau dokumen untuk mendapatkan izin tinggal di indonesia. Gak ada orang-orang kulit putihnya," ucapnya.

Saat dilakukan penggeledahan di kediaman tersangka berinisial V yang berada di Pademangan, Jakarta Utara dan Pinangsia, Jakarta Barat, penyidik menemukan beberapa cap keimigrasian negara lain yang diduga palsu seperti, Fiji, Jamaika, Taiwan, Tiongkok, dan Maladewa.

Baca: Diputus Kontrak, PHL ini Terbebani Hutang Rp 4 Juta

Selain itu, Petugas juga menemukan Stiker Visa Negara New Zealand yang diduga palsu di satu buku catatan dan dokumen-dokumen perusahaan yang diduga fiktif.

"Dugaan kami sementara, dokumen perusahaan tersebut digunakan untuk pengajuan memperoleh izin tinggal," kata Tato.

Hard Disk External yang juga disita oleh penyidik berisikan sejumlah data elektronik atau Soft Copy Format Visa New Zealand, Irak, dan Filipina, serta data elektronik lainnya mengenai dokumen syarat pengajuan izin tinggal.

Baca: Panglima Perintahkan TNI Bantu Polri Bereskan Ormas Radikal

Atas perbuatannya, kedelapan WNA asal India dikenakan Pasal 120, 130, 116 dan 123a Undang-Undang Keimigrasian dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun kurungan penjara dan denda maksimal Rp 1,5 miliar. (Rangga Baskoro)

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved