Peruri Proyeksikan Pendapatan Naik 50 Persen Lebih, Tahun Ini

Selain menjalankan penugasan pencetakan uang dari Bank Indonesia, Peruri juga bakal mengincar peluang bisnis di luar negeri.

Peruri Proyeksikan Pendapatan Naik 50 Persen Lebih, Tahun Ini
Warta Kota/Ichwan Chasani
Peruri memperkirakan tingkat pendapatan perseroan di tahun 2017 ini melonjak hingga di atas 50 persen dibanding tahun 2016. 

WARTA KOTA, KARAWANG -- Peruri memperkirakan tingkat pendapatan perseroan di tahun 2017 ini melonjak hingga di atas 50 persen dibanding tahun 2016.

Selain menjalankan penugasan pencetakan uang dari Bank Indonesia, Peruri juga bakal mengincar peluang bisnis di luar negeri.

Direktur Utama Peruri, Prasetio mengungkapkan, karena fungsi Peruri adalah menjalankan penugasan pencetakan uang negara, maka variabel pendapatan tergantung dari pemberi tugas, dalam hal ini, Bank Indonesia.

Pertumbuhan pendapatan Peruri, kata Prasetio, rata-rata per tahun mencapai 22 persen.

Menurutnya, revenue Peruri pada tahun 2016 lalu kurang lebih mencapai Rp2,5 triliun.

Peruri memperkirakan tingkat pendapatan perseroan di tahun 2017 ini melonjak hingga di atas 50 persen dibanding tahun 2016.
Peruri memperkirakan tingkat pendapatan perseroan di tahun 2017 ini melonjak hingga di atas 50 persen dibanding tahun 2016.

Angka tersebut lebih rendah dari pencapaian tahun 2015 yang mencapai Rp3 triliun lebih.

"Perkiraan kami, tahun ini (pendapatan--red) akan tumbuh sekitar 50 persen. Kurang lebih bisa sampai Rp4 triliun. Ini karena ada penugasan pencetakan uang kertas 12,9 miliar bilyet, dan logamnya 2,5 miliar keping," bebernya.

Prasetio menambahkan, selain menjalankan penugasan pencetakan uang rupiah sesuai amanat UU Nomor 7/2011 dan PP Nomor 32 Tahun 2006, Peruri juga mulai mengembangkan bisnis digital dan mengincar pasar internasional.

Dalam rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) 2017-2021, proporsi pendapatan harus menunjukkan perubahan yang signifikan dengan asumsi kontribusi dari pendapatan bisnis konvensional/cetak Rupiah 59 persen, bisnis internasional 9 persen, dan bisnis digital 32 persen.

Kondisi saat ini, kata dia, kontribusi pendapatan dari bisnis internasional masih kecil. Sekitar 90 persen lebih merupakan kontribusi bisnis dalam negeri. Dari 90 persen bisnis dalam negeri itu, 60 persen berasal dari pencetakan uang.

Halaman
12
Penulis: Ichwan Chasani
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved