Home »

News

» Jakarta

Pilkada DKI Jakarta

Invoice Dahlan Iskan Jadi Motivasi Sandiaga Uno Tatkala Depresi

"Invoice itu jadi motivasi saya, inspirasi saya untuk semangat berusaha. Kalau lagi down, saya selalu duduk di meja kerja, lihat invoice itu."

Invoice Dahlan Iskan Jadi Motivasi Sandiaga Uno Tatkala Depresi
Wartakotalive.con/Dwi Rizki
Seminar kewirausahaan bertajuk Sabtu OK OCE pada Sabtu (31/12) menguak salah satu hal yang memotivasi Sandiaga Salahudin Uno dalam berusaha. 

WARTAKOTA, RAWAMANGUN-- Seminar kewirausahaan bertajuk Sabtu OK OCE  pada Sabtu (31/12) menguak salah satu hal yang memotivasi Sandiaga Salahudin Uno dalam berusaha.

Seminar diikuti ratusan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Jakarta Timur di Gedung Rabbani, Jalan Pemuda, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur.

Salah satunya diungkapkan Sandiaga adalah secarik kertas invoice berupa tanda bukti pembayaran pertama atas kerjasama antara PT Saratoga dengan sebuah perusahaan milik Dahlan Iskan pada akhir tahun 1997.

Invoice itu kini dilaminasi dan disimpan di dalam laci kerjanya hingga saat ini.

"Invoice itu jadi motivasi saya-penyemangat, inspirasi saya untuk semangat berusaha. Kalau lagi down, depresi, saya selalu duduk di meja kerja, lihat invoice itu, pasti semangat lagi," ungkapnya kepada 200 orang pelaku UKM.

Walau sederhana, secarik kertas berukuran A4 itu katanya memiliki arti mendalam dalam transformasi dirinya, dari semula seorang profesional muda di bidang investasi dan keuangan menjadi seorang wirausaha yang merintis usaha dari bawah.

Jauh sebelum dirinya menerima invoice senilai Rp 10 juta itu, diceritakan dirinya adalah seorang pekerja di salah satu perusahaan investasi milik Astra Group. Karirnya melesat dalam delapan tahun bekerja, dalam usia yang terbilang muda, yakni 27 tahun, dirinya menjabat sebagai Executive Vice President pada tahun 1997 silam.

Tetapi kesuksesan dan tabungan berjumlah besar yang diinvestasikannya dalam lembar saham berakhir hanya dalam satu pekan, ketika ekonomi dunia mengalami krisis pada tahun 1997.

Kala itu, dirinya yang tengah mengelola perusahaan di Singapura mengaku tidak memperkirakan krisis di kawasan Amerika dan Eropa tidak mencapai Asia Tenggara, sehingga ketika nilai saham anjlok, sisa tabungan justru kembali dialokasikannya kembali dalam saham.

"Saya semula berpikir saham yang anjlok akan rebound (kembali naik), tapi saya ingat betul, krisis pertama kali terjadi di Thailand, Vietnam, Malaysia sampai Indonesia. Saya drop (tertekan), semua investasi hilang, tabungan habis, yang tersisa justru hutang, karena lembar saham yang saya pegang saya jaminkan ke bank," ungkapnya.

Bukan hanya menarik seluruh dana investasi miliknya, krisis pun secara langsung menutup operasi perusahaan yang tengah dipimpinnya. Dirinya pun diberhentikan secara langsung lantaran perusahaan mengalami pailit.

"Saya inget betul di hari saya di-PHK, saya berangkat kerja waktu itu pagi, sampai di kantor 08.30 WIB. Kondisi kantor waktu itu sepi, saya langsung masuk ke ruangan dan duduk di atas meja, saya lihat sudah ada secarik kertas, tertulis singkat, ada satu paragraf.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Suprapto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help