WartaKota/

Berita Heboh

Wow, Ribuan Celana Dalam Dijemur di Jalan, Para Wanita Ini Protes Perkosaan

Tiga ribuan celana dalam tergantung di jalanan. Para wanita ini melakukan protes terhadap kekerasan yang sering mereka terima.

Wow, Ribuan Celana Dalam Dijemur di Jalan, Para Wanita Ini Protes Perkosaan
theguardian
Tiga ribuan celana dalam tergantung di jalanan 

WARTA KOTA, PALMERAH-- Tiga ribuan celana dalam tergantung di jalanan Afrika Selatan.

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan di negara yang terletak di ujung selatan Afrika ini.

Baca: Wanita ini Menangis Diperiksa di Bandara Sampai Disuruh Buka Celana Dalam dan BH

Perlu diketahui, Afrika Selatan merupakan salah satu negara paling menakutkan bagi perempuan.

Baca: BREAKING NEWS: Ibu-ibu Lempari Kantor Ahok Pakai Celana Dalam dan Bra

Laporan terbaru menyebut, 53.617 perempuan diperkosa antara tahun 2014 hingga 2015.

20161205 ribuan celana dalam digantung
Tiga ribuan celana dalam tergantung di jalanan

Angka ini juga menjadikan Afrika Selatan sebagai negara dengan tingkat pemerkosaan terhadap wanita tertinggi di dunia.

Oleh sebab itu, dua orang seniman perempuan di sana, Jenny Nijenhuis dan Nondumiso Msimanga, memutuskan untuk membuat instalasi seni di kota Johannesburg, Afrika Selatan yang diberi nama SA’s Dirty Laundry (jemuran kotor Afrika Selatan).

Di atas jemuran sepanjang 1,2 kilometer, tergantung tenggantungkan 3.600 pakaian dalam bekas, angka yang sama dengan jumlah perempuan yang diperkosa di Afrika Selatan setiap harinya menurut perkiraan dari Medical Research’s Council Center.

20161205 ribuan celana dalam digantung1
Nondumiso Msimanga dan Jenny Nijenhuis

Namun, instalasi ini juga dikritisi karena pemilihan studi oleh Medical Research’s Council Center.

Angka 3.600 ini dinilai terlalu besar dan jauh berbeda dari perkiraan Persatuan Bangsa-Bangsa yang menyebutkan “hanya” 132 wanita diperkosa di Afrika Selatan setiap harinya.

Menanggapi hal ini, Nijenhuis dan Msimanga berkata bahwa tidak ada penelitian dan perkiraan mengenai pemerkosaan yang akurat.

Sebab, rasa malu korban menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat angka perkiraan menjadi lebih rendah dari yang seharusnya.

“SA’s Dirty Laundry bermaksud untuk mengangkat kerahasiaan dan rasa malu yang menghantui kekerasan seksual yang, di samping penangan yang buruk oleh pemerintah dan polisi, membuat korban tidak mau melaporkan atau membicarakan mengenai hal tersebut,” ujar mereka. (kompas.com/theguardian)

Editor: Suprapto
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help