Bom Samarinda

Juhanda Dipantau Sejak Tiba di Samarinda, tapi Bandel Tak Mau Dibina

Kedatangan Juhanda ke Kaltim bermula saat dirinya menjadi tahanan di LP Tangerang.

Juhanda Dipantau Sejak Tiba di Samarinda, tapi Bandel Tak Mau Dibina
ISTIMEWA

WARTA KOTA, SAMARINDA - Keberadaan Juhanda, terduga pelaku bom molotov yang meledak di halaman Gereja Okuimene, Samarinda Seberang, ternyata sudah diketahui oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Kalimantan Timur (FKPT Kaltim) sejak masuk Samarinda.

Baca: Selamat Jalan Intan Olivia

Hal tersebut disampaikan Kepala FKPT Kaltim Hasyim Miradjie, saat ditemui usai pembahasan pasca-pengeboman halaman Gereja Okuimene di Gedung Kesbangpol Kaltim, Senin (14/11/2016).

Baca: Donasi untuk Korban Bom Samarinda Tembus Rp 71 Juta

"Sejak tiba di Samarinda kami pantau, dan memang kami sudah monitor. Saat itu, ada informasi bahwa Juhanda sudah lepas dari penjara dan menuju serta tinggal di Kaltim. Tetapi, memang kami kecolongan hingga dia bisa berbuat seperti itu (aksi bom). Kami benar-benar tidak tahu, mengapa Juhanda bisa memperoleh bahan membuat bom," ujar Hasyim.

Baca: Bom Molotov di Gereja Samarinda Low Explosive, Pelaku Langsung Dibekuk

Kedatangan Juhanda ke Kaltim bermula saat dirinya menjadi tahanan di LP Tangerang.

Dia harus mendekam di LP Tangerang karena terlibat aksi bom buku pada 2011.

Saat di LP, Juhanda bertemu Agung Prasetyo, pelaku teror di Poso.

Usai masa tahanan selesai, ia direkomendasikan oleh Agung Prasetyo untuk tinggal di rumah ayahnya di Samarinda Seberang.

"Pelaku tak terdaftar di desa serta kelurahan setempat. Ini karena ia sudah dimonitor. Datangnya Juhanda dikarenakan bertemu dengan seorang teman di penjara, kemudian disarankan tinggal dengan bapak dari temannya tersebut di Samarinda. Kami memang tak bisa menangkap pelaku saat itu, karena tanpa ada alat bukti, aparat tak bisa menangkap," tambah Kapolda Kaltim Irjen Safaruddin.

Sejak kedatangan Juhanda ke Kaltim, aparat keamanan sudah memantau gerak-geriknya.

"Itu sudah dipantau. Ada dari Babinsa, FKPT, BIN, Polda, dan unsur lainnya. Meskipun diawasi, tetap kami tak bisa menangkap, karena tak ada barang bukti," kata Hasyim.

FKPT bahkan juga melakukan upaya ajakan-ajakan pembinaan, agar Juhanda kembali menjadi normal, layaknya warga biasa.

"Kami dekati terus, tetapi belum bisa. Dia bandel, dan tak mau ikuti pembinaan dari kami. Berbeda dengan delapan mantan napi pelaku bom lainnya yang sudah bisa kami bina. Delapan orang itu juga ada di Kaltim," jelasnya.

Sementara, menurut Kapolda Irjen Safaruddin, Tim Densus 88 masih melakukan proses untuk mencari tahu apa motif aksi bom di depan Gereja Oikumene tersebut.

"Kami akan ungkap. Jaringannya seperti apa, mengapa bisa terjadi dan seterusnya. Biarkan dahulu kami lakukan proses," ucapnya. (*)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved