Vaksin Palsu

Produsen Vaksin Palsu Duduk Hikmat Tunggu Sidang

Hidayat Taufiqurahman (34) duduk hikmat di ruang sidang Kartika Pengadilan Negeri Bekasi, Jumat (11/11) pukul 10.00.

Produsen Vaksin Palsu Duduk Hikmat Tunggu Sidang
Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri
Hidayat Taufiqurahman (kanan) duduk hikmat tunggu persidangan di PN Bekasi, Jumat (11/11) pukul 10.00. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Hidayat Taufiqurahman (34) duduk hikmat di ruang sidang Kartika Pengadilan Negeri Bekasi, Jumat (11/11) pukul 10.00.

Lelaki yang mengenakan rompi tahanan itu sedang menunggu giliran untuk mengikuti persidangan.

Dia adalah terdakwa kasus vaksin palsu di daerah Jakarta, Bekasi dan sekitarnya. Hidayat berperan sebagai produsen vaksin palsu bersama istrinya Rita Agustina (33). Namun saat sidang digelar, Rita belum dihadir.

Pihak Kejaksaan Negeri Bekasi sedang menjemputnya di Rumah Tahanan Pondokbambu, Jakarta Timur. Pengadilan Negeri Bekasi membagi empat sesi persidangan pada kasus ini.

Sebab jumlah terdakwa mencapai 19 orang, yaitu Hidayat Taufiqurahman, Rita Agustina, Kartawinata alias Ryan, H. Syafrizal dan Iin Sulastri, Nuraini, Sugiyati alias Ugik, Nina Farida, Suparji Ir, Agus Priayanto, M. Syahrul Munir, Seno, Manogu Elly Novita, Sutarman bin Purwanto, Thamrin alias Erwin, Mirza, Sutanto bin Muh Akena, Irnawati, dan Muhamad Farid.

Pada sesi pertama, sidang dimulai untuk terdakwa Sutarman sebagai pemilik apotek yang membeli vaksin palsu dari Hidayat dan Rita.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang membaca dakwaan, menuntut Sutarman dengan pasal 197 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

Dalam pasal tersebut disebutkan, bahwa setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.

JPU, Andi Adikawira Putra mengatakan, terdakwa telah menyalahi aturan dengan memeli vaksin palsu yang diproduksi oleh Hidayat dan Rita.

Selain itu, apotek yang dikelola terdakwa juga tidak memiliki izin untuk menjual vaksin pediacel.

Halaman
12
Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved