Transjakarta Jalin Kerjasama dengan Swasta, Kesepakatan Tarif, Rupiah per Km

PT Transjakarta dan operator bus swasta akan menyusun skema tarif rupiah yang dihitung dengan satuan kilometer.

Transjakarta Jalin Kerjasama dengan Swasta, Kesepakatan Tarif, Rupiah per Km
WARTA KOTA/ICHWAN CHASANI
Ilustrasi. Suasana halte Bus TransJakarta Cawang-UKI, Jumat (4/11/2016) pagi. 

WARTA KOTA, GAMBIR -- Sukses menggandeng Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) mengkonversi ratusan bus sedang pada sejumlah trayek, PT Transjakarta kini semakin percaya diri untuk menggandeng sejumlah operator bus swasta untuk menguasai trayek ibu kota. 

Tujuannya untuk peningkatan pelayanan dan standar kelayakan angkutan umum ibu kota.

Hal tersebut lugas disampaikan oleh Direktur Operasional PT Transjakarta, Daud Joseph. 

Dikatakannya, pihaknya bersama Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta tengah melakukan sosialisasi kepada operator kendaraan umum untuk menawarkan kerja sama.

Kerjasama tersebut di antaranya ditawarkan kepada Metromini, Koantas Bima dan Kowanbisata. 

Alasannya, seluruh operator bus sedang itu menguasai sebagian besar trayek ramai dan menjadi penghubung di Ibukota.

Kerjasama sudah ditawarkan, sekarang ini sudah ada tiga operator yang bersedia, Kopaja, Metromini dan Kowanbisata. 

Nantinya, bus-bus berukuran sedang milik operator akan diganti dengan bus Transjakarta ukuran sedang, bisa merek Mitzubishi, Isuzu, atau Hino.

Apabila kerjasama sukses dilakukan, tercatat ada sebanyak 140 trayek yang akan dilalui bus Transjakarta ke depannya. 

Mengenai kerjasama, PT Transjakarta dan operator bus swasta akan menyusun skema tarif rupiah yang dihitung dengan satuan kilometer.

"Kerjasama tidak akan berbeda dengan Kopaja, tapi ditekankan untuk tarif dihitung per kilometer. Jadi semuanya jelas, tidak ada lagi kejar setoran sampai kecelakaan, hal itu yang dicegah," ungkapnya.

Lebih lanjut diungkapkannya, apabila seluruh bus telah dikonversikan sesuai dengan standar Transjakarta, bus sedang dapat memanfaatkan hi-deck yang berada di kanan jalan atau halte low-deck di sebelah kiri jalan.

Namun, tidak menutup kemungkinan akan adanya pembuatan halte baru jika dibutuhkan untuk mengakomodasi penumpang.

"Untuk bus ukuran sedang bisa menggunakan kombinasi antara halte low-deck dan hi-deck. Bisa juga ada penambahan sesuai kebutuhan di lapangan nanti," jelasnya.

Revitalisasi kendaraan umum ini, lanjutnya, sebagai langkah awal untuk membentuk lembaga transwadaya. Lembaga tersebut dapat menjadi wadah bagi pihak operator bus yang armadanya direvitalisasi PT Transjakarta.‎

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help